Pacaran, Serius Yakin?

Judul Buku: Pacaran di Atas Dunia Harus Dihapuskan

Penulis: Nuruddin Zanki

Penerbit: Anomali

Tahun Terbit: Cetakan I, Maret 2014

Jumlah Halaman: 104 Halaman

IMG_20140520_155717

Membaca judulnya, mungkin kita akan teringat akan pembukaan UUD 1945. Buku yang tidak terlalu tebal ini sepertinya memang dirancang untuk remaja (awal hingga akhir) yang mungkin tak terlalu minat membaca buku (tebal). Meskipun demikian, apa yang disampaikan dalam buku ini bisa dibilang mirip undang-undang, yakni berisi “doktrin” akan bahaya pacaran.

Langsung isi, tanpa daftar isi, tanpa basa basi. Dengan bahasa yang cukup menohok, terutama bagi remaja, buku ini mungkin bisa menjadi “penawar” bagi siapa saja yang sedang dilanda kegalauan karena masalah asmara.

Masih ada beberapa kesalahan tanda baca yang sejujurnya sedikit menyulitkan saya. Ketiadaan ilustrasi, yang disukai remaja, juga membuat pembaca harus bersabar untuk tidak bosan hingga menyelesaikannya sampai akhir. Selain itu, ada beberapa pilihan diksi yang menurut saya kurang tepat karena terlalu “vulgar”.

Esensinya sendiri, menurut saya cukup bagus. Walaupun (lagi-lagi) saya harus jujur, bahwa ada saat-saat dimana saya sebagai pembaca merasa tidak tahu inti dari apa yang disampaikan penulis karena pembahasannya melebar ke mana-mana. Jadi, intinya apa? Namun demikian, buku ini tetap cocok menjadi salah satu “sahabat” di kala duka.

Tak hanya “mendoktrin” mengenai bahaya pacaran, terutama kerugiannya untuk wanita, penulis juga menjelaskan di bab-bab awal mengenai apa yang terjadi pada tubuh kita (reaksi kimia) ketika jatuh cinta. Pun dijelaskan juga apa pengaruh “reaksi” yang terus-menerus terjadi akibat pacaran.

Meski setiap kegiatan pacaran tak harus mengalami hal yang sama, bisa salah satu atau semua dari yang telah dipaparkan di buku ini, namun pada intinya tetap sama, bahwa pihak wanitalah yang lebih banyak dirugikan. Walau ditulis dengan bahasa yang cukup tajam, pada akhirnya, pembaca sendirilah yang akan memutuskan apa yang akan ia lakukan. Jika saat ini ia pacaran, apakah ia akan memutus kegiatan (tidak jelasnya) tersebut atau menikah? Pun jika saat ini, ada pembaca yang belum pernah merasakan pacaran, mungkin keberadaan buku ini bisa menjadi salah satu pendukung argumen atas opini yang sempat terbersit bahwa remaja harus pacaran agar dibilang “laku”.

Selamat membaca!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*