Cinta Menyembuhkan Luka

Judul Buku: Melawan dengan Cinta

Penulis: Abay

Penerbit: Zafaran

Tahun Terbit: Cetakan I, 2010

Tebal: 216 Halaman

IMG_20140521_125744

“Cara terbaik untuk mengalahkan musuhmu adalah dengan menjadikan mereka teman,” salah satu ungkapan lama yang sangat terkenal.

Bukan berarti, kita harus bermuka dua hanya untuk bisa menang. Namun, menurut penafsiran saya, pepatah tersebut menyuruh kita untuk “berdamai” dengan “ketidaksukaan” kita terhadap orang lain, siapa pun dia. Bagaimana caranya? Dengan menjadikan orang yang tidak kita sukai tersebut sahabat, bahkan kalau bisa saudara.

Pepatah lain menyebutkan bahwa pembalasan terbaik terhadap masa lalu yang kelam adalah dengan menjadi bahagia di masa sekarang dan yang akan datang. Pun lagi-lagi, dalam ungkapan lain dikatakan bahwa cara untuk membalas orang yang memusuhi kita adalah dengan memberikan ketulusan padanya.

SUSAH!

Mungkin, sebagian besar dari kita akan bilang seperti itu. Tapi, percayakah bahwa cara memengaruhi orang lain sesungguhnya bukanlah dengan mendoktrin mereka dengan cerita-cerita menakutkan atau kebencian, namun dengan cara halus dan lembut hingga orang lain taksadar bahwa kita sedang memengaruhinya.

Takperlu berpanjang-panjang saya berprolog untuk mengomentari buku ini. Yang jelas, di zaman yang penuh fitnah seperti sekarang ini, kita membutuhkan bacaan yang mencerahkan. Mengajak, bukan menodong. Merangkul, bukan menunjuk.

Buku ini mencoba mengajak kita untuk melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa, masalah yang ada sekarang ini sesungguhnya tak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkat senjata atau berbuat anarkis. “Senjata” kita bukanlah serangan berupa kata-kata tajam. “Senjata” kita adalah cinta dan ketulusan serta prinsip yang kuat yang tak mudah goyah.

Masa sekarang jelas berbeda dengan masa terdahulu. Perang di zaman sekarang bukan menggunakan senjata, melainkan dengan menggunakan akal dan strategi, serta hati.

Pernahkah kita mendengar kisah tentang seseorang yang memilih untuk tetap baik kepada orang lain yang menyakiti hatinya. Setelah orang tersebut ditanya mengapa ia tetap bersikap baik padahal sudah disakiti, dengan tenang orang tersebut menjelaskan bahwa untuk apa kita terpengaruh dengan sikap orang lain ke kita. Bukankah kita adalah makhluk yang independen dan hanya bergantung perasaan pada Sang Pencipta. Apapun yang dilakukan orang lain pada kita, bukanlah urusan kita. Yang menjadi urusan kita adalah apa yang kita lakukan pada orang lain. Maka, orang yang hatinya penuh cinta dan kedamaian, takakan terpengaruh dengan carut-marutnya zaman. Dia tetap putih walau berada di tengah kegelapan.

Bila saat ini Anda sedang galau, sedih, stres, atau dalam kondisi takmenyenangkan, mungkin buku ini bisa Anda jadikan salah satu teman bermuhasabah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*