Jilbaber Nggak Boleh “Cupu”

IMG_20140521_120600

Judul Buku: Jangan Sadarin Jilbaber!

Penulis: Chio

Penerbit: Anomali

Tahun Terbit: Cetakan I, Juli 2009

Tebal: 198 Halaman

Saat membaca buku ini, saya merasakan adanya kemiripan pesan seperti yang ada pada buku “Jangan Sadarin Cewek”. Bedanya, bila buku yang terbit setahun sebelumnya tersebut ditujukan untuk wanita secara umum, buku ini dikhususkan untuk jilbabers atau mereka yang mengenakan hijab dan jilbab.

Dengan gaya bahasa yang sarkas, penulis sepertinya ingin membuka mata pada semua pembaca, khususnya wanita, bahwa BERHIJAB saja tidaklah cukup. Bukan berarti wanita yang sudah berhijab itu aman dan lolos dari “hukuman” di hari akhir nanti karena toh jilbab “hanyalah” pintu awal mereka (wanita) sebagai salah satu pembuktian bahwa mereka patuh terhadap perintah Tuhannya. Namun, tak serta merta seorang wanita yang sudah berjilbab akan berubah drastis menjadi bidadari surga yang tiada cela. Tentu tidak. Ada banyak PR, misi, dan tugas yang harus diemban dan diselesaikan. Pilihannya ada dua: jilbab yang sebenar-benarnya atau jilbab yang hanya sebatas “simbol”. Tentu saja untuk masalah tersebut, hanya pelaku/pemakainyalah dan Allah yang tahu.

Ada banyak buku-buku dengan tema seperti ini, tentang kritik manis kepada wanita yang sudah berjilbab. Maksudnya tentu bukan karena sentimen atau benci, namun lebih kepada rasa sayang dan bentuk kepedulian agar jangan sampai perbuatan yang kurang pantas menodai penampakan yang sudah “sempurna”.

Seperti apa sikap/karakter jilbabers yang harus diperbaiki. Pun sikap positif apa yang harus ditingkatkan?

Sebagai seorang “agen” (muslimah) sudah seharusnya bila jilbabers memiliki karakter yang kuat. Mewarnai, bukan terwarnai. Toleransi dan enggak kaku, tapi tetap berjalan pada prinsipnya. Menginspirasi, dan bukan menjadi follower kelompok lain. Bisa bekerja sama dengan siapa saja, namun ia tetap memiliki identitas sendiri.

Meski ada bahasa-bahasa dalam buku ini yang menurut saya (sangat) sarkas, tapi setidaknya buku ini bisa menjadi reminder pada semua wanita yang belum/akan/sudah berjilbab. Belajarlah setinggi-tingginya dari mana saja dan siapa saja, tapi pijaklah prinsip sebagai muslimah sedalam-dalamnya agar tidak mudah goyah dengan pengaruh negatif atas kemajuan zaman.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*