Detik-Detik Menjelang Pernikahan

1_24 Jam Sebelum Menikah

Judul: 24 Jam Sebelum Menikah

Penulis: Koko Nata, dkk

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House, sekarang Noura Books

Tahun Terbit: November, 2009

Tebal: 234 Halaman

**

24 Jam Sebelum Menikah adalah buku (antologi) saya yang pertama. Kalau enggak salah, tulisan saya ada di halam 83, judulnya “Dua Wisuda”. Hehe, rada-rada lupa karena buku ini ada di rumah Deltamas (Cikarang Pusat) dan nggak saya bawa ke Kalimantan.

Bisa dibilang, antologi ini adalah debut saya yang pertama (banget) sebagai penulis. Jadi ya, gitu, deh. Saat saya baca kembali naskah saya: oh, nooo!! Hahaha. Tapi, saya menikmati dan bersyukur. Bukankah dalam pepatah (basi) yang ada di halaman bawah buku tulis kerap kali tertulis “Practice makes perfect”? Bahkan, sampai tua atau keriput pun, kita semua masih diwajibkan untuk BELAJAR dan nggak boleh merasa puas dengan ilmu yang kita dapatkan saat ini! #ceramahmodeon 😀

Eh iya, gimana ceritanya saya bisa nyanthol sebagai salah satu kontributor di antologi ini? Nostalgia ya, boo.

Senin, 20 April 2009, pukul 16.34 WIB: Saya mengirim naskah dengan judul “Saat-Saat Mendebarkan dalam Hidupku, Menikah Dini Menuju Ridho Illahi” ke Mas Koko Nata, salah satu senior di Forum Lingkar Pena. Saya sendiri mendapat kabar melalui milis FLP kalau komunitas kepenulisan tersebut sedang mencari naskah bertema pernikahan untuk proyek naskah Musyawarah Nasional FLP. Usia saya masih sangat muda waktu itu (awal 20-an), baru saja merantau (mengikuti suami tercinta), dan baru gabung di salah satu komunitas kepenulisan bernama FLP (cabang Bekasi, sesuai dengan domisili saya saat itu). Enggak berharap terpilih pas mengirim naskah tersebut karena nyadar banget saat itu saya benar-benar masih baru nyemplung di dunia tulis-menulis. Yang ada dalam pikiran saya saat itu sederhana: tulis, kirim. Hasilnya: pasrah.

Senin, 18 Mei 2009, pukul 16.59 WIB: Saya mendapat kabar kalau naskah perdana yang saya ikutkan audisi masuk, tapi dengan revisi. Sebagai newbie, perasaan apalagi selain senang dan NORAK, xixixi.

Ada yang bilang, “Cuma antologi aja, lhoh, bangga!!”

Tapi toh saya nggak ngefek. Yang bilang seperti itu juga bukan penulis. Jadi, saya paham, mungkin ybs memang belum pernah mengalaminya atau awam dengan dunia tulis menulis. Ya, namanya beda dunia, beda frekuensi, nggak bisa dipaksakan. Saya sih nyantai aja dan tetap melanjutkan ke-norak-an saya. Wkwkwk

Yang paling bahagia selain saya adalah suami. Sungguh, dia ini meskipun cool, tapi perhatian (banget). Dia sangat menghargai apapun yang saya lakukan selama itu positif. Dia takpernah (dan moga-moga sampai nanti) mengecilkan atau membuat semangat saya down. Mungkin karena dukungan penuh dari pasangan itu ya yang membuat saya ogah memikirkan komentar negatif orang lain. Makasih ya suamiku, semoga rezekimu mengalir duereess, xixixi #modus.

Senin, 22 Juni 2009, pukul 07.39 WIB: Saya dikirimin naskah yang sudah direvisi. Wah, senangnya. Saya enggak perlu repot-repot ngerevisi, wkwk. Tugas saya cuma nambahi biodata aja. Enak, kan.

Dalam proses menunggu terbit, saya kerap kali dihinggapi perasaan galau. Jadi terbit enggak, ya. Kapan terbitnya. Ya, gitu , deh. Maklum, saat itu kan saya belum terlalu paham bagaimana proses penerbitan buku yang ternyata enggak semudah membalikkan telapak tangan. :)

November 2009, buku antologi ini RESMI terbit.

Lagi-lagi, selain saya, suami adalah orang yang paling senang atas terbitnya buku (antologi) perdana saya. Deuh, kalau keinget, saya enggak bisa menahan air mata *lebay*.

Di antara teman-teman (kampus) seangkatan, saat itu cuma saya yang ngliwar dengan banting setir terjun di dunia literasi. Kapan-kapan, saya akan bercerita tentang ini. Saya bersyukur memiliki suami yang selalu mendukung saya dalam suka dan duka. Ah, udah, ah, nanti saya lebay lagi. Huft. *ambilkainpelbuatngelapingus* 😀

**

Terus, antologi ini bercerita tentang apa?

Dari namanya aja udah jelas, kan. Menu buku ini adalah kisah-kisah (yang enggak seragam) tentang kejadian sehari sebelum menikah. Ada yang galau, ada yang takut kalau calonnya meninggal, ada yang ingin membatalkan, dan perasaan nggak jelas lainnya.

Saya yakin, enggak cuma orang-orang yang ada dalam buku ini aja yang galau, tapi sebagian besar umat manusia yang akan menikah juga pasti galau. Semakin dekat dengan hari H, semakin rempong.

**

Cerita saya sendiri tentang apa?

“Aku beneran nikah nggak ini?”

“Gimana kalau tiba-tiba Mr. Cool meninggal sebelum kami akad?”

“Gimana kalau di jalan nanti ada apa-apa?”

“Gimana kalau rem mobil pengantinnya blong?”

“Gimana kalau ternyata salah satu di antara kami meninggal karena ketabrak apa?”

“Aku nikah ta ini?”

Ya, itu yang saya ceritakan dalam buku itu. Korban drama Korea banget pokoknya. 😀

**

Buku 24 Jam Sebelum Menikah ini tetap bisa dinikmati karena temanya enggak musiman. Di mana kamu bisa mendapatkannya?

http://www.getscoop.com/id/buku/24-jam-sebelum-menikah

http://qbaca.com/book/detail/MZN1_RMAHBUKU00000111_01

http://www.starbuku.com/book/detail/2186

http://www.rakuten.co.id/shop/gilabuku/product/gb-02321/

**

Menurut saya, walaupun kegalauan orang-orang yang akan menikah yang diceritakan dalam buku ini kadang-kadang enggak logis, tapi nggak bisa juga dianggap sepele. Saya cukup banyak mendengar kabar sedih kalau si A nggak jadi menikah karena calonnya meninggal. Nah, lhoh. Meskipun bersikap lebay juga bukan solusi yang menyenangkan.

Sehari sebelum menikah memang masa-masa mendebarkan. Ada begitu banyak kemungkinan (buruk/baik) yang bisa terjadi. Kejadian-kejadian non-teknis yang tak diprediksi kadang-kadang muncul merusak suasana hati. Tapi, tenang saja. Jika saat ini kamu mengalami kegalauan itu karena besok menikah, tetap kalem, ya. Kamu nggak sendiri. Hampir semua orang mengalaminya, enggak cuma orang-orang di buku ini, tapi juga para senior (sesepuh). Dan, para sesepuh itu bisa melewatinya, bahagia sampai sekarang. Jika mereka bisa melewatinya, kamu pasti juga bisa. Tetap berpikir positif dan jangan lupa berdoa, yaa. Semoga yang akan menikah, acaranya dilancarkan. Enggak ada salahnya kalau membaca buku ini sembari nunggu pak penghulu bilang “sah”, hohoho. 😀 Bagi mereka yang sudah lama menikah, buku ini mungkin bisa dijadikan salah satu tempat bernostalgia. Oh, ternyata banyak juga yang “norak” di detik-detik menjelang perubahan status. Xixixi

Semangat!!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*