mengerjakan (lagi) naskah yang tertunda

Target saya hari ini enggak muluk-muluk: mengerjakan (MENYELESAIKAN) naskah bertema guru yang sempat tertunda.

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelum-sebelumnya, bahwa beberapa waktu terakhir ini saya sempat mengalami kebosanan akut. Rentan 2009 s.d. 2013, saya mengerjakan 20 judul buku nnon-fiksi baik pesanan maupun tidak, 14 antologi, dan 600-an artikel SEO. Itu belum termasuk pekerjaan proofreading dan mengedit serta menulis artikel ekonomi di salah satu instansi.

WASSALAM …

Jika boleh saya berkata seperti itu. 😀

Orang tua saya sempat menasihati, “Sudah, jangan terlalu ngoyo. Santai saja. Sudah saatnya kamu memikirkan dirimu sendiri, keluargamu,” :)

Memang, semacam ada PR kepada orang tua ketika saya mengerjakan hal-hal di atas mengingat saya menikah muda (belia banget). Padahal, orang tua saya santai saja. Ya, namanya karakter sanguinis melankolis kan serasa memiliki dua kepribadian. Antara ceria dan ingin semua orang bahagia, tapi juga sensitif. Paling merasa bersalah ketika orang-orang di sekitarnya bersedih karena keberadaannya. *sokbaikbener*

Jujur, saya enggak terlalu peduli dengan kalimat-kalimat (yang negatif) dari orang lain. Logikanya, mereka enggak ngerawat dan membesarkan saya, jadi buat apa pernyataan negatif dari mereka saya pikirkan (jikalau ada, ya). Yang saya pikirkan, selain keluarga kecil saya tentunya, adalah orang tua.

Maka, ketika orang tua saya “menyuruh” saya untuk bersantai dan mereka semacam sudah melihat pembuktian “kecil” dari saya, kebosanan saya terhadap kegiatan yang saya tekuni pun mulai nampak. Mata sudah mulai pening melihat huruf. Kepala sudah mulai cenut-cenut baca sms dan pesan-pesan tagihan dari Mbak dan Mas editor yang baik hati. Saya pun seperti sudah sadar. Saya lelah (untuk sementara).

*kok jadi curcol, sih. hadeeeh, di mana-mana curcol. enggak di blogdetik, enggak di wordpress, wkwkwk*

Saya (dengan terpaksa) membatalkan untuk menulis tiga buku (dua di antaranya duo dengan suami). Di tahun ini, bisa dibilang, saya lebih santai daripada tahun-tahun sebelumnya. Mengedit naskah akuntansi dari salah satu penerbit nasional masih tetap, tapi enggak pakai “selingkuh” (dalam artian, enggak nyabang ke mana-mana). Saya (berusaha) untuk menikmati hari-hari sebagai Ny. Ryan. *halah*

Dunia literasi tetap menjadi soulmate saya sampai kapan pun. Hanya saja, untuk saat ini, prioritas pertama saya berbeda. Tapi, saya tetap berkegiatan seperti biasa. Cuma ya itu tadi, enggak kalap seperti dulu. Saya memilih “setia” (meminjam istilahnya Fatin, yaa).

Maka, target saya hari ini pun enggak muluk-muluk, enggak kalap seperti dulu. Saya ingin menyelesaikan naskah bertema guru yang sempat tertunda. Kurang 80-an halaman lagi. Saya bersyukur banget masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan naskah ini. Semoga, penundaan (penyelesaian) ini memiliki hikmah positif, yaitu kualitas tulisan yang saya hasilnya menjadi semakin baik dan tentunya berguna buat sesama. Aamiin.

Pekerjaan mengedit naskah akuntansi terjemahan dari penerbit sudah saya setor. Sembari menunggu tugas baru dari mereka, saya akan menyelesaikan naskah ini. Semangat!! :)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*