Berartinya Pulang Kampuang bagi Perantau (Saya), SEKARANG!

Ini juga saya copas dari tulisan saya di sini

IMHO:
Saya merasa, kadang-kadang, tulisan seseorang terpilih sebagai pemenang lomba blog, terpilih untuk diterbitkan, atau terpilih untuk apapun itu bukan semata-mata karena tulisan dia bagus. Kalau “cuma” tulisan bagus, semua orang di seluruh dunia juga bisa kok (ngasbun banget saya). Maksudnya, selain faktor yang kasat mata, ada juga faktor-faktor tidak kasat mata yang ikut berperan. Ini cuma pandangan saya pribadi, ya.

Pas dulu masih rajin-rajinnya ikut lomba blog, saya merasa heran kadang. Pas tulisan saya bagus (menurut saya, ya, hahahaha), eh enggak menang. Padahal udah saya edit berkali-kali. Giliran nulisnya biasa aja (enggak terlalu nafsu buat menang), tapi emang dari hati bangett, enggak tahunya menang. Padahal, saya belum mengeditnya. Sekali tulis, langsung saya tayangkan.

Untuk sekarang ini, saya rada malas mengikuti lomba blog karena masih memiliki prioritas yang lain. Hidup adalah pilihan, bukan.

😀

**

Tulisan ini menang pada lomba ngablogburit 2011 :D

**

Salah satu alasan yang membuat saya bertekad ingin hidup di negeri orang adalah karena ingin menikmati suasana pulang kampung. ^__*

Alasan yang tidak penting barang kali bagi beberapa orang, he he. Tapi bagi saya cukup penting. Alasan tersebut sama halnya dengan alasan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan ilmu yang lebih banyak. Yups, saya yakin, di tanah rantau saya akan mendapatkan semua itu. Insya Allah.

Dan ternyata hal itu memang saya buktikan.

Selama kurang lebih 20 tahun, saya tidak pernah merasakan yang namanya mudik. Saya tak tahu bagaimana rasanya merindukan kampung halaman karena setiap hari saya bisa menikmati kampung halaman saya. Saya juga tidak perlu pusing-pusing memikirkan mahalnya tiket mudik dan menyiasati dengan membelinya beberapa bulan sebelum mudik. Saya tidak perlu berharap waktu akan segera berlalu agar bisa segera mudik. Saya juga tak perlu menetapkan target ini itu agar saya bisa mudik dengan tenang.

Itu dulu.

Datar-datar saja bukan?

Ya, meski saya bahagia karena setiap hari bisa bertemu keluarga, tapi sisi hati saya yang lain berkata bahwa hidup saya datar-datar saja. Tidak ada “loncatan” seperti kembang api. Tak ada teriakan seperti ketika saya menaiki halilintar atau colombus. Bertemu keluarga? Memakan masakan ibu? Merasakan sejuknya hawa di kampung halaman saya? adalah hal yang sangat sangat biasa.

Lagi-lagi itu dulu.

Sekarang?

Semuanya berbeda.

Sejak saya menikah, otomatis saya harus mengikuti suami ke “negeri orang”, sesuai cita-cita saya dulu yang memang ingin merantau. Dan benar ternyata, indahnya pagi hari baru akan kita rasakan ketika kita merasakan kelamnya malam hari. Begitu pula dengan tenangnya malam hari baru bisa kita rasakan saat kita merasakan bisingnya siang hari.

Dan itulah yang saya rasakan.

Di perantauan ini saya memang mendapatkan apa yang saya inginkan, yaitu TANTANGAN!

Ya, saya memang mencintai tantangan, karena di sanalah saya merasa hidup. Seseorang baru bisa merasakan indahnya kemenangan setelah berpanjang-panjang dan berlelah-lelah dengan perjuangan bukan?

Saya merasakan bagaimana mengatur keuangan rumah tangga, bekerja sama dengan suami, semuanya sendiri, jauh dari sanak famili, menyicil cicilan rumah yang bunganya lumayan tinggi, mengejar deadline menulis, berbagi peran dengan suami, mengejar mimpi, bekerja sama, dan hal-hal lainnya. Tentu, saya sangat bersyukur, karena saya merasa hidup. Saya merasa menjadi orang yang dinamis. Saya berguna. Saya berkontribusi.

Namun, lagi-lagi, sisi hati kecil saya berkata, SAYA MERINDUKAN KAMPUNG HALAMAN. Selalu. Setiap saat. Sekalipun di tanah rantau saya sangat bahagia dengan berbagai macam tantangan. Sekalipun di sini saya banyak memiliki teman, sahabat, dan saudara. Tapi saya tetap merasakan rindu yang teramat dalam pada kampung halaman. Atau barangkali lebih tepatnya saya BARU merasakan rindu dengan KAMPUNG HALAMAN dengan kata-kata “mudik” dan dengan segala macam kesederhanaan yang ada di tanah kelahiran saya, setelah saya berada di negeri orang.

Inilah yang saya inginkan.

Sensasi.

Hidup tanpa sensasi ibarat masakan yang tidak berbumbu. Hambar.

Apa yang kita rasakan saat kita bisa terbebas dari kejaran anjing? Bahagia bukan?

Itulah yang saya rasakan.

Akhirnya, saya bisa mengenal kata-kata “rindu pulang, rindu mudik, dan rindu kampung halaman” seperti yang selama ini saya inginkan.

Ya, saya menikmati menjadi orang perantauan.

Tetapi saya juga merindukan pulang dan kesederhanaan kampung halaman.

Saya mengejar mimpi di negeri orang.

Tetapi saya juga ingin berbagi dengan orang-orang yang saya cintai di tempat kelahiran.

Ibarat seorang manusia yang merindukan indahnya surga.

Seperti seorang hamba yang merindukan kampung akhirat.

Itulah saya yang sekarang sedang merindukan tanah kelahiran.

^___^

2 Comments on Berartinya Pulang Kampuang bagi Perantau (Saya), SEKARANG!

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*