Belajar sepanjang Masa

Insani_2014
Dimuat di Majalah Insani, PIPEBI, Edisi April 2014

KISAH

 

Belajar sepanjang Hayat: Gelar Akademis dan Pendidikan Tinggi Saja tidak Cukup

Ny. Miyosi Ariefiansyah

 

Impianku untuk menjadi seorang sarjana, master, doktor, bahkan profesor terpaksa harus kukubur dalam-dalam karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sebagai peraih NEM tertinggi SMA, seharusnya aku bisa kuliah dengan beasiswa. Tapi, hal tersebut tak kulakukan karena DILARANG orang tua. Tak bermaksud menyalahkan, sungguh. Kenyataannya, kedua orang tuaku melarang keras diriku untuk kuliah. Mereka menyuruhku langsung bekerja, membantu menopang perekonomian keluarga.

Di saat yang lain sibuk mempersiapkan UMPTN, nama tesnya waktu itu, aku sibuk memasukkan surat lamaran. Di saat teman-temanku sibuk membicarakan ospek, aku (sendiri) sibuk mempersiapkan hari pertama masuk kerja. Ya, berbekal ijazah SMA dengan nilai di atas rata-rata, alhamdulillah aku diterima kerja sebagai staf pembukuan di sebuah perusahaan menengah di bidang makanan.

Meskipun keinginan untuk kuliah itu masih sangat besar, namun kedua orang tuaku lagi-lagi mengingatkan bahwa aku tak boleh egois. Masih ada tiga adik yang harus kubiayai. Penghasilan ayahku sebagai kuli bangunan yang tak pasti ditambah penghasilan ibuku sebagai buruh tani masih belum cukup untuk membiayai semua kebutuhan keluarga. Maka, aku sebagai anak tertualah yang harus mengerti kondisi. Tak boleh egois. Lebih baik “mengorbankan” satu nyawa untuk banyak nyawa daripada “menyelamatkan” satu nyawa, tapi kehilangan banyak nyawa. Begitulah kira-kira.

Meskipun aku tidak kuliah, namun semangat belajarku tinggi. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktuku untuk membaca, setelah mengerjakan semua tugas-tugas rutin tentunya. Rupanya, kepala seksi akuntansi yang berusia masih muda tertarik dengan ketekunanku. Beliau pun meminangku menjadi istrinya. Kedua orang tuaku pun tak keberatan karena adik-adikku sudah mulai mandiri. Beban keluarga sudah tak seperti dulu lagi.

**

Masalah lain muncul. Suamiku yang berpendidikan S1 dianggap tidak pantas berdampingan denganku yang hanya berpendidikan SMA. Bukannya aku sensitif, tapi pernyataan itu keluar dari mulut mereka, orang-orang yang menilai aku tak layak mendampingi suamiku yang terlihat sempurna,

“Kalau Ibunya bukan sarjana, gimana anak-anaknya?”

“Yang sarjana saja kadang tak bisa mengurus anak dengan baik,”

“Beruntunglah suamimu mau denganmu. Kalau mau, dia bisa mencari wanita yang lebih daripada dirimu,”

Dan, pernyataan lain yang sejenis. Intinya sama. Aku yang hanya berpendidikan SMA dan dari keluarga sederhana ini dianggap tidak layak berdampingan dengan laki-laki berpendidikan tinggi dan dari keluarga berada.

**

Aku pribadi tak mau menjadikan opini mereka sebagai beban. Aku harus bisa mengatasi rasa sakit hatiku. Kenyataannya, aku memang bukan sarjana. Meskipun demikian, aku adalah wanita yang sangat suka belajar, membaca salah satunya. Aku yakin akan bisa menjadi ibu yang baik. Mau dan rajin belajar adalah modal utama seorang wanita ketika ia memutuskan untuk menikah. Apa gunanya gelar akademis sepanjang jalan tol, bila ia merasa cepat puas dan tak lagi mau belajar. Meskipun tak ada yang mendukungku, selain suami, tapi aku yakinkan diri bahwa aku bukanlah istri dan ibu yang memalukan. Aku berjanji untuk selalu belajar dan belajar.

Dalam perjalanannya, tentu saja aku mengalami banyak peristiwa. Orang bijak pernah bilang, perjuangan adalah sesuatu yang sangat indah untuk diceritakan, tapi tidak untuk dijalankan. Ya, itu memang benar. Sama seperti yang kualami waktu itu.

Mereka cenderung memandangku sinis dan berkata merendahkan ketika aku rajin membaca buku-buku parenting. Mereka juga seolah tak percaya ketika aku nyambung diajak diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan suamiku.

“Cuma istri saja kok macem-macem. Ngapain sih baca buku!”

“Wong kerjaannya di rumah aja kok baca buku segala!”

“Belagu banget baca buku. Kerjaan juga cuma ngurus anak dan suami!”

Begitulah kira-kira kata mereka.

Setelah menikah, aku memang sudah sepakat dengan suami bahwa ia yang mencari nafkah dan aku mengurus segala sesuatunya di rumah. Suamiku sendiri sudah resign dari pekerjaannya yang lama dan bekerja di perusahaan yang lebih besar dengan jabatan yang lebih tinggi. Sedangkan aku, fokus mengurusi anak-anak dan rumah tangga.

Untuk menopang semuanya, aku selalu meng-update pengetahuan dengan membaca. Gelar akademis yang dulu sempat kurindukan tak lagi kuratapi. Aku menyibukkan diriku dengan belajar. Aku mengurus kedua buah hatiku sendiri, mengajari mereka, dan berusaha agar mereka tak sampai les privat di luar. Semua, aku yang menangani. Alasan utamanya sebenarnya karena untuk menghemat uang belanja. Daripada mereka les berbayar, lebih baik diajari sendiri oleh ibu kandungnya.

**

Meskipun aku sudah berusaha “sekeras” ini dan sedikit bisa membuktikan, namun mereka tetap beropini sama. Bahkan, lebih “menyakitkan”.

“Hati-hati, suamimu kan S2 sekarang. Kamu cuma SMA. Ya, namanya laki-laki,”

Alhamdulillah, suamiku memang berkesempatan untuk kuliah lagi mendalami bidang akuntansi keuangan. Aku sendiri sering diajak berdiskusi olehnya. Bahkan, kadang-kadang, aku membantu ia mengerjakan tugas-tugas kuliah. Mungkin, tak akan ada yang percaya. Tapi, itulah kenyataannya. Hobiku yang suka membaca, termasuk membaca buku-buku kuliah suami, membuatku sedikit-sedikit memahami apa yang suamiku pelajari. Dia sendiri merasa lega karena tugas-tugas kuliahnya bisa ter-handle dengan baik tanpa harus menelantarkan pekerjaannya di kantor.

“Ibumu lulusan mana, sih?” ini yang juga sering dilontarkan anak teman-temanku. Entahlah, kenapa anak sekarang seolah lebih “melihat” seseorang dari “penampakan luarnya”. Seingatku, aku tak berani bertanya demikian kepada temanku saat aku masih kecil dulu. Apa urusanku bertanya latar belakang pendidikan orang tua temanku.

Mungkin, teman-teman anakku heran karena anakku memang tidak les di bimbingan belajar atau les privat, tapi nilai akademisnya bisa dikatakan memuaskan dan masuk lima besar.

**

Dalam keheningan malam, kadang aku menangis. Kenapa ya aku masih dianggap tidak pantas. Kenapa orang-orang selalu berkata kalau aku ini beruntung yang seolah-olah aku ini memang berhak dipandang sebelah mata hanya karena aku tak bergelar. Kenapa ya mereka memandangku dengan tatapan aneh ketika aku bilang ingin ke perpustakaan, ke toko buku, atau ke kafe buku.

Bukannya aku haus penghormatan. Sungguh, bukan karena itu. Tapi, aku ini manusia biasa, bukan bidadari. Tidakkah mereka berpikir sedikit saja bagaimana perasaanku ketika kalimat serupa datang bertubi-tubi,

“Jelas saja anak-anakmu pintar, bapaknya cerdas, S2”

Tapi, aku tak boleh lemah. Aku tak ingin perasaan melow ini menguasai pikiranku hingga membuatku tak semangat lagi. Bukankah itu hakikatnya seorang istri dan ibu. Bukankah pahlawan sejati memang tak haus penghargaan dan nama besar. Mereka tak perlu tahu bagaimana aku ketika di rumah. Aku juga tak perlu memberi tahu mereka apa saja yang sudah kulakukan selama ini. Allah Maha Mengetahui. Mereka mengingkari, tapi Allah mengetahui. Aku harus tetap bersemangat. Menopang dari belakang dan bahagia menjadi yang “tak terlihat” dan “tak dianggap”. Suami dan anak-anakku, itulah proyekku. Merekalah tolak ukur keberhasilanku, bukan penghargaan orang lain yang hanya tahu sekilas saja.

**

“Wisudawati terbaik dengan IPK 3,56 diraih oleh …. Kepada wisudawati, kami persilakan untuk maju memberikan sambutannya,”

“… untuk Ibu saya tercinta yang tak hanya melahirkan saya, namun juga benar-benar mendidik dan membesarkan saya. Seorang Ibu sederhana, tapi luar biasa. Ibu, yang membuat semangat saya bangkit jika mengingat perjuangannya. Ibu yang selalu mencontohkan melalui tindakan dan bukan hanya kata-kata. Penghargaan ini saya persembahkan untuk Ibu saya, Ibu yang mengajarkan kepada saya makna gelar dan pendidikan tinggi yang sebenarnya …”

Alhamdulillah. Sujud syukur kupanjatkan kepada Allah. Nikmat manakah yang hendak kudustakan? J

**

Aku sama sekali tak menyesal hanya berpendidikan SMA. Sungguh. Aku sangat bahagia bahkan karena dari situlah aku bisa mengajarkan anak-anakku arti pendidikan tinggi yang sebenarnya. Sungguh, gelar akademis dan pendidikan tinggi saja tak cukup bila tak dibarengi dengan kemauan dan keikhlasan hati untuk selalu belajar dan belajar, dari mana saja, dari siapa saja, dan kapan saja. Terlebih bagi wanita, calon pendidik keluarga.

Ibu, apapun pendidikanmu, jangan pernah berhenti untuk belajar. Sekolah ada batas waktunya, tapi tidak dengan belajar. Sepanjang nyawa masih melekat, kita masih berkewajiban untuk belajar, belajar, dan belajar. Ibu, sesungguhnya dirimu begitu istimewa, dirimu adalah intan permata, siapapun dirimu di masa lalu dan dari mana pun asalmu.

(Seperti yang dikisahkan oleh seorang ibu yang kedua putrinya kini sudah menikah dan menetap di luar negeri)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*