Impian Tertinggi Wanita

Dimuat di Tabloid Jakarta Baru, Agustus 2012

Impian Tertinggi Wanita

13740091cca558b65a50e34caeeda817_tabloid-jakarta

Miyosi Ariefiansyah

Bersyukurlah bila Sang Pencipta memilih kita sebagai wanita karena itu artinya DIA percaya bahwa kita mampu mengemban misi mulia. Sebuah misi yang tak mungkin bisa dikerjakan oleh orang biasa.

Bila semua wanita di dunia ini ditanya tentang impian tertinggi mereka, ditanya pada hati kecil, mungkin jawabannya akan seragam. Ya, impian tertinggi wanita secara naluriah adalah menjadi ibu rumah tangga. Apa pun profesi seorang wanita saat ini dan seberapa hebat dia di luar, maka profesi sebagai ibu rumah tangga tak bisa dipisahkan dari kehidupannya. Sejatinya, menjadi ibu rumah tangga bukanlah pengorbanan, melainkan kebahagiaan.

Menjadi sekretaris pribadi suami, menjadi guru les untuk semua mata pelajaran dengan jangka waktu tak terhingga, menjadi psikolog saat anggota keluarga mengalami masalah jiwa, menjadi dokter keluarga, perawat, koki, manajer keuangan, direktur, dan tentu saja menjadi diri sendiri adalah peran istimewa yang dilakoni wanita selama hidup di dunia. Mengurus segala hal mulai dari yang sepele hingga yang besar, mulai dari yang terlihat sampai yang tidak terlihat, dan mulai dari a hingga z, semua itu adalah misi seorang wanita yang notabene adalah ibu rumah tangga. Dan, mungkinkah tugas yang complicated tersebut diserahkan pada sembarangan orang? Tentu saja jawabannya tidak. Maka, berbahagialah bila saat ini kita diciptakan DIA sebagai wanita karena itu artinya DIA percaya bahwa kita istimewa. Wanita, sang penakluk dan pengubah dunia

Adalah salah bila kemudian seorang wanita yang sudah menikah merasa dirinya tidak berharga karena hanya melakukan yang itu- itu saja. Oh, tidak. Justru sebaliknya. Wanita yang sudah menikah ibarat pahlawan yang sudah selesai di-training dan siap memasuki arena pertandingan yang sebenarnya. Seorang ibu rumah tangga sejati tak boleh merasa dirinya tidak berharga hanya karena seluruh orang di dunia ini tidak melihat semua usahanya.

Percayakah, pahlawan sejati tak pernah membutuhkan pengakuan orang lain karena ia sudah puas bila orang- orang di sekelilingnya bahagia dengan apa yang dilakukannya. Pernahkah kita melihat film superhero seperti Spiderman, X-Men, MIB, dan film- film sejenis. Coba kita lihat bagaimana perilaku karakter yang katanya pahlawan di film tersebut. Ya, orang- orang di sekitar mereka sama sekali tak pernah tahu bahwa tokoh utama adalah pahlawan. Mereka menganggap si pahlawan hanyalah orang biasa seperti mereka, padahal sebenarnya tidak. Pun si pahlawan tidak terlalu mementingkan apakah dirinya dikenal atau tidak karena itu semua tidak penting. Padahal, yang dilakukan superhero tersebut tidaklah bisa dibilang sepele. Namun, apakah dalam kehidupan sehari- hari karakter yang sebenarnya pahlawan tersebut dielu- elukan. Jawabannya adalah TIDAK. Bahkan, banyak di antara mereka yang dianggap lingkungan sebagai orang yang tak terlalu istimewa ketika tokoh pahlawan tersebut melepas seragam superheronya.

Ada yang jauh lebih penting daripada hanya sekadar pengakuan yaitu kebermanfaat hidup buat sekitar. Bila dalam diri masih ada keinginan untuk diakui oleh orang lain, maka yang bersangkutan tak akan pernah bisa dianggap sebagai pahlawan karena pahlawan sejati melakukan sesuatu bukan karena sebuah pengakuan melainkan karena tahu mengapa melakukannya. Pun seperti seorang wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Penting dan perlukah orang- orang di seluruh dunia mengetahui semua yang kita lakukan, mengetahui semua pengorbanan kita, dan mengetahui penderitaan kita? Oh tidak. Waktu kita sebagai pengemban misi mulia terlalu berharga bila dihabiskan hanya untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Ibu rumah tangga adalah udara, keberadaannya mungkin tak terlihat dan diakui, namun tanpanya semua makhluk akan mati. Ibu rumah tangga adalah superhero yang keberadaannya dianggap biasa meskipun si superhero sudah melakukan hal- hal yang luar biasa. Ibu rumah tangga adalah pengemban misi penting yang tak bisa diserahkan pada sembarang orang. Hanya wanitalah yang ternyata memiliki kriteria untuk mengemban misi super penting tersebut. Berbahagialah diciptakan sebagai wanita dengan segala kompleksitas di dalamnya. Apa pun kegiatan/ karir/ jabatan/ kedudukan seorang wanita di luar sana, tetaplah ingat akan misi penting tersebut. Seorang pahlawan tak bisa menuntaskan misi pentingnya bila ia hanya sibuk memikirkan popularitas dirinya sendiri. Semangat para wanita!! Tanpa kita, bumi tak akan bisa berotasi. Bersyukurlah kepada-Nya yang sudah memilih kita sebagai wanita.

Miyosi Ariefiansyah, alumni Universitas Brawijaya, penulis, & editor freelance (@miyosimiyo)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*