Lebaran sebagai Momen Silaturahmi

Insani_2013
Dimuat di Majalah Insani, PIPEBI, Edisi Agustus 2013

Renungan/Inspirasi

 

Mengembalikan Makna Lebaran sebagai Momen Silaturahmi

Miyosi Ariefiansyah

 

“Alhamdulillah, suami saya baru saja diangkat jadi direktur, Jeng! Kalau suaminya Jeng gimana? Masih kerja di situ-situ aja?”

            “Anak saya yang pertama kerja di perusahaan ternama, yang kedua baru saja menyelesaikan program masternya, yang ketiga masuk kelas akselerasi, saya sendiri, hehe, Alhamdulillah kemarin baru saja jadi doktor. Oh iya, kalau suami saya alhamdulillah baru saja dapat promosi. Gak nyangka Jeng, saya yang biasa-biasa aja dulu, sekarang bisa seperti ini. Gak percaya banget. Meski, saya masih merasa belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Jeng-Jeng di sini!”

            “Kerja di mana sekarang? Lhoh, kok di situ? Kenapa gak mencoba di tempat lain. Emang kerja di sana ada duitnya?”

            “Alhamdulillah, THR tahun ini lumayan, jadi bisa beli Pajero. Hehe… yah, rezeki!”

            “Kok bisa sih suamimu di-PHK. Apa kinerjanya gak bagus? Waduh, gimana hidupmu selanjutnya?”

            “Serius suamimu pensiun dini. Lha, sekarang kegiatannya apa? Kok bisa sih? Kenapa gak dipikir-pikir dulu, mana anak-anakmu masih kecil-kecil, ya!”

 

Contoh di atas adalah beberapa bahan obrolan yang kerap kali kita jumpai saat lebaran. Bagi beberapa orang, hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Apalagi, bila kondisi kehidupan yang “kasat mata” baik/mapan atau di atas rata-rata, meskipun dirasa tidak etis. Namun, bagaimana bila sebaliknya. Maka, lebaran yang tadinya menjadi ajang silaturahmi untuk merekatkan kembali hubungan yang sempat renggang dengan kerabat atau teman bisa berubah menjadi bumerang.

Kisah Rosulullah bersama anak yatim di hari kemenangan mungkin bisa menjadi cerminan bagi kita bahwa lebaran yang sesungguhnya adalah membuat orang lain bahagia dengan sikap dan tutur kata kita, bukan sebaliknya, mempertajam kesenjangan dan kecemburuan sosial misalnya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik tentang kelembutan hati Rosulullah, kurang lebih seperti ini:

Di hari kemenangan, hari yang dinanti-nantikan seluruh umat muslim, di saat semua orang bersuka-cita, ada anak kecil dengan menggenakan pakaian compang-camping sedang merenung, bersedih. Rosulullah, manusia pilihan berhati lembut itu pun datang menghampiri dan menanyakan ada apa gerangan. Mengapa anak kecil tersebut tak larut dalam kebahagiaan seperti yang lain.

            Anak kecil tersebut tak mengetahui siapa orang yang sedang bertanya. Ia tak menduga bahwa orang tersebut adalah Rosulullah. Dengan kepolosannya, anak kecil tersebut kemudian bercerita bahwa ia sangat sedih karena ayahnya meninggal ketika berperang bersama Rosulullah. Sang ibu menikah lagi. Ia memiliki ayah tiri yang jahat yang tega merampas semua harta miliknya. Kini, anak kecil yang malang tersebut tak memiliki apa-apa. Baju, makanan, bahkan tempat tinggal pun tak ada. Ia sebatang kara.

            Hati Rosulullah pun tersentuh mendengar cerita dari anak kecil tersebut. Beliau menawarkan padanya, apakah anak kecil tersebut bersedia berbapak Rosulullah, beribu Aisyah, dan bersaudara Fatimah.

            Tentu saja anak kecil tersebut kaget. Ia sama sekali tak menyangka bahwa orang yang menanyainya adalah manusia pilihan, Rosulullah. Anak kecil yang semula yatim dan tak memiliki apa-apa tersebut kemudian bahagia. Pakaiannya yang lusuh pun segera diganti dengan yang lebih baik. Dia kembali ceria.

Esensi dari lebaran itu sendiri adalah silaturahmi. Merekatkan kembali hubungan yang sempat renggang karena suatu hal di masa lalu, menambah kedekatan bagi yang sudah dekat sebelumnya, berbagi kebahagiaan dengan meminta maaf dan memaafkan, tulus dari dasar hati, dan kembali menjadi pribadi yang fitri. Kembali ke titik nol, untuk menjadi lebih baik lagi.

Lebaran, yang kemudian disalahartikan sebagai momen pembuktian, telah menggeser nilai-nilai kasih sayang dan kepekaan hati seperti yang diajarkan oleh Rosulullah. Membuktikan bahwa diri ini lebih sukses secara kasat mata daripada teman atau kerabat. Membuktikan bahwa diri ini lebih baik daripada orang lain di seluruh aspek kehidupan. Dan, hal-hal yang tidak terlalu penting lainnya. Apa manfaat harta, jabatan, kedudukan, kekuasaan, titel, dan hal-hal kasat mata lainnya bila hanya untuk dijadikan pameran semata hingga membuat orang lain merasa tidak percaya diri dan terluka.

Setelah berpuasa selama kurang lebih tiga puluh hari dan berlatih untuk mengendalikan segala macam nafsu negatif, tentu diharapkan agar kita menjadi pribadi baru yang lebih baik daripada sebelumnya. Apalah artinya berpuasa sebulan penuh bila sikap dan hati yang baik tak tercermin saat lebaran.

Mari merayakan hari kemenangan dengan banyak berbagi kebahagiaan untuk orang lain, tak hanya berbagi materi, namun juga tutur kata dan sikap yang baik. Lebaran seolah ingin mengingatkan kita bahwa semua manusia dilahirkan sama dan setara. Bila pun berbeda, hal tersebut bukan karena hal-hal kasat mata, melainkan kualitas hati yang hanya DIA yang bisa menilainya.

Semangat menyambut hari kemenangan! 😀

 

 

 

 

 

2 Comments on Lebaran sebagai Momen Silaturahmi

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*