Cinta Monyet Never Forget, Serius?

Mengawali November, saya ingin berbagi salah satu antologi bertema cinta. Semoga kita bisa menjalani sisa tahun 2014 ini dengan hati yang penuh cintaa, yaa. Aamiin.

Cinta Monyet

Buku Cimon, begitu kami menyebutnya, terbit tahun 2011. Meskipun sudah enggak ada lagi di toko buku konvensional, teman-teman masih bisa mendapatkannya secara online di sini:

http://www.bukukita.com/Remaja/Remaja-Umum/92516-Cinta-Monyet-:-Never-Forget-%2818-Diary-Nostalgila-Cinta-Pertama%29.html

http://www.palasarionline.com/detail.php?kode=DND0638

Saya pribadi awalnya hanya sekadar ingin refreshing dengan membaca tulisan yang sudah terpublikasi di masa lalu. Hasilnya? Ngakak. Ternyata, awal-awal menulis dulu, saya cukup humoris. Semakin ke sini semakin serius. Mungkin karena karakter saya yang sanguinis melankolis yaa jadi becanda bisaa, serius juga ayoo aja. Walaupun semua itu enggak bisa dibuat-buat. Kalau lagi enggak mood buat becanda, “dicolek” dikit langsung “gemas”, hehe.

**

Siapa saja para penulis antologi tersebut?

Triani Retno, Yoana Dianika, Ida Raihan, Riawani Elyta, Bayu Insani, Farida Ulfa Farano, Naqiyyah Syam, Miyosi Ariefiansyah, Aprilina Prastari, Indah Julianti Sibarani, Dewi Eyen, Oci Aja, Irhayati Harun, Aki, Santi Nuur P, Neng Lisojung, Prima Citra Devi, Jaladara

**

Apa saja kata mereka tentang buku Cimon ini?

“Cinta monyet bukan berarti anak monyet yang lagi cinta-cintaan, tapi merupakan jenis cinta yang—kata orang—cuma mampir sekejap di usia yang masih beiia. Nah, karena muncul di usia belia itulah, cinta menjadi sesuatu yang ‘ajaib’. Keajaiban ini ditampilkan dalam 15 cerpen yang ditulis oleh penulis-penulis hebat. Mereka punya kisah yang luar biasa soal cinta (monyet). Asyik, kocak, seru, dan (hiks), menyentuh! Aku membacanya berulang-ulang.
(Reni Erina, penulis, penikmat buku dan Monaging Editor Story Teenlit Magaitne)

“Sebuah buku yang ditulis dengan gaya ringan, tapi isinya sebetulnya tidak ringan, dan sangat berkesan. Isinya fresh, padahal yang diaduk-aduk para penulisnya adalah masa lalu … kenangan … nostalgia. Buku ini mampu mengembalikan kenangan cinta monyet Anda. Membuat hari kita menjadi lebih segar dan sangat memotivasi.”
(Kuswinarto, Redaktur Pelaksana Surat Kabar Berita Indonesia, Hong Kong)

“Cinta monyet senantiasa membuat kita tertawa geli, ketika kita mengenangnya kembali saat dewasa. Cinta monyet bagaikan bunga-bunga bermekaran di antara kebun ajaib para peri. Aduhai, lucu, kocak, dan sungguh membuat kita ketawa-ketiwi. Kita akan selalu
mengenangnya sampai kapan pun, percayalah!”
(Pipiet Senja, novelis Indonesia)

“Cinta pertama atau cinta monyet, itulah isyarat Tuhan Yang Maha Baik, agar kita setahap demi setahap memahami apa itu cinta. Ulasan-ulasan dalam buku ini demikian jujur, bertabur hikmah di setiap untaian. Padat kosakata, ringan mengalir, melampaui karya para penulis generasi sebelumnya, membuatku menangis dan tertawa dalam satu waktu. Ruarrr biasssaau ..!
(Ari Nur Utami, penulis novel bestieller Dwilogi Diorama-Dilatasi)

**

Cerita saya sendiri tentang apa?

Seperti biasa, mungkin teman-teman yang mengenal saya sudah hafal, di dalam antologi tersebut, saya menuliskan kisah cimon saya dengan Mr. Cool. Hahahaha.

Prinsip saya: orang-orang selain suami saya hanyalah iklan. Yang akan saya tulis dan ekspos, ya cuma yang nikahin saya (Mr. Cool, maksudnya). Dia, suami sekaligus cimon saya. Adapun “iklan-iklan” tersebut enggak pernah saya masukkan dalam hati, apalagi mereka sudah punya kehidupan sendiri. Buat apa juga ditulis atau membuka kenangan lama.

Sejujurnya sih kita pasti memiliki beragam kenangan dengan berbagai macam orang. Tapi, kita bisa memilih, mana yang akan kita kubur dan mana yang enggak. Mana yang bisa kita jadikan perekat perasaan. Kita sendiri sudah tahu jawabannya. Itulah sebabnya dalam antologi CIMON tersebut saya menulis tentang Mr. Cool. Tapi, saya enggak pernah memaksa orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan saya karena saya sendiri juga enggak mau dipaksa. Setiap orang pasti memiliki alasan sendiri. Yang penting saling menghormati, ya.

(Ini kok jadi ceramah, sih. Hahaha. Maaff!)

**

Ini tulisan saya di antologi tersebut (enggak semua saya tulis dan mohon maaf jika EYD-nya saat itu masih enggak jelas)

Kisah Cinta bagai Dorama
Miyosi Ariefiansyah

Pipiku bersemu merah. Memori itu kembali berputar dalam otakku. Ehm… gimana yah. Baiklah akan aku ceritakan kalau begitu tentang kisah cintaku *ciee sok serius banget*.

Aku adalah tipe orang yang cuek, terutama dalam masalah cinta-cintaan. Ehm… bukan cuek sih sebenarnya, tapi rada telmi *xixixixi, jadi malu membuka aib pribadi*. Meski sejujurnya aku sudah mengerti masalah cinta-cintaan sedari TK *lhohh, katanya telmi, gimana sih*. Lha iya donk, mengerti kan belum tentu melakukan. Kalau cuma masalah cowok suka sama cewek sih aku emang udah ngerti sedari balita, hanya saja aku emang cukup cuek dengan masalah cinta-cintaan *ya elah emang balita mo ngapain* dan hanya cukup mengerti saja.

Jujur, aku tak pernah jatuh cinta. Kala itu hatiku masih bersih banget, jiwaku masih polos, dan ragaku masih suci mewangi berseri-seri sepanjang hari seperti pelangi *ini bukan promosi lho saudara-saudara*.

Masa-masa TK dan SD kulalui tanpa cinta, jadi yah bisa dibilang garing-garing aja kayak krupuk. Meski kala itu hidupku tak diwarnai dengan cinta, namun aku cukup bahagia karena banyak yang jatuh cinta *wkwkwkwkwkwk, penting gak seee*. Kala itu aku masih jadi si Mio yang jutek bin galak, hingga setiap teman-temanku yang ada hati denganku, pasti langsung kubabat habis dan kubantai hingga mereka tak berani macam-macam lagi. Ehm… wajah bidadari berkelakuan preman pasar *khusus buat anak yang berani macem-macem sama aku kala itu*.

Beranjak SMP, aku agak sedikit “ngeh” dengan yang namanya cinta. Meski berwajah lumayan imut dan kutilang (kurus gak tinggi dan lansung), Namun tetap saja aku tak tertarik untuk maen cinta-cintaan.*apa hubungannya sih?? Xixixixi*. Kala itu aku menjadi anak kesayangan bapakku *sampai sekarang juga kok* karena track record ku yang selalu memenuhi standard, yaitu tak pernah pacaran dan gak tertarik dengan yang namanya pacaran. Ehmm… keren bukan *memuji diri sendiri*. Di tengah begitu banyak teman-temanku yang sudah banyak memiliki pacar. Aku melenggang kangkung dengan riang gembira dan suka-suka juga percaya diri menyandang status JOMBLO.

Hingga suatu ketika ada yang bertanya padaku
“Yosi, pacaran gitu lhoh, jangan mikir terus, biar kepalamu adem,”
“ Udah adem kok, lha wong tiap hari keramas,” jawabku sok cupu.
“Ah dasar, ngomong sama anak ini emang gak pernah bener,” selorohnya sebal.

“wkwkwkwkwk, ehm… aku hanya ingin yang pertama dan yang terakhir, intuisiku berkata bahwa jodohku gak di SMP ini,” jawabku sok dewasa dan sok bijak, padahal gak banget.

Kelas heboh. Semua pada tertawa. Ada juga yang memegang perutnya. Ada yang langsung jungkir balik. Semua terpana ketika mendengar pernyataanku, si anak SMP yang sok dewasa ini mengeluarkan ajimatnya yaitu, sejumprit kata-kata bijak dan penuh makna.

“Yaelah Yoss, emang pacaran buat nikah??” kata salah satu teman cowokku yang terkenal suka sekali tebar pesona kala itu.
“Kan Cuma buat main-main, biar bisa refreshing,” katanya lagi.
Aku tersenyum dan pura-pura bego.

**

Hidup bukan untuk main-main, prinsipku kala itu *sampai sekarang juga sih*. Meskipun kala itu aku dianggap aneh oleh teman-temanku, karena aku gak ngerasa gatel ketika harus mendengar teman-temanku bercerita ini itu tentang pacar-pacarnya *lagian kenapa gatel sih wong sudah mandi*. Mataku juga gak pedas ketika harus melihat teman-temanku bergandengan tangan dan bercanda ria dengan pacarnya. Kenapa ya aku gak tertarik? Mungkin karena prinsipku terlalu kuat dan sulit dipatahkan. Apa yang aku yakini tak bisa dirubah *ciee gaya*.

Apakah aku punya idola??
Ehm… kayaknya sih iya *lupa-lupa ingat sih*. He he. Mo jujur tapi kok ya gimana yah. Maluuu . Ya udahlah jujur aja daripada dosa. 😀

Sejujurnya, meski hatiku terkenal dingin, namun aku juga sama seperti anak ABG pada umumnya yang mengidolakan seseorang yang dianggap keren. He he. Banyak banget idolaku, mulai dari yang gak bisa dijamah sampai yang bisa dijamah. Maksudnya, mulai dari yang kukenal sampai yang tidak aku kenal sama sekali, mulai dari bangsa manusia sampek non manusia *anime maksudnya*. Tapi bener deh, itu semua cuma kagum biasa, yang menurutku bukan cinta.

Intinya aku seperti anak ABG pada umumnya yang tak lepas dari masalah: dijodoh-jodohkan, ditembak, dipanggil dengan nama cowok yang digosipkan, dan teman-temannya.

Meski dalam hati aku merasa bahagia, karena itu artinya aku laris *wkwkwkwkwkwk*, eh jangan ditiru ya, awas kalau niru, tapi seupilpun aku tak terpengaruh buat pacaran. Aku masih memegang teguh prinsipku untuk tidak sembarangan mencintai. Bagiku lebih baik dicintai daripada mencintai, karena kalau mencintai kita yang akan rugi, kita yang akan dibuat capek dan stress, sedangkan kalau dicintai pan sebaliknya, kita bisa santai-santai melambai-lambai sepanjang hari tanpa perlu makan hati mikirin kekasih hati. Tapi ya kalau bisa sih saling mencintai, he he *teuteup*.

Alhasil, aku jadi seorang cewek ABG galak bin jutek yang akan marah ketika ada temanku menangis karena cowok. Ceritanya aku sok jadi pahlawan pembela kebenaran dan keadilan getoo.
“Cuma cowok gitu aja dipikirin!!”
“Belum tentu dia mikirin kamu, ngapain kamu mikirin dia?!”
Dan beragam kata-kata motivasi buat teman-teman cewekku yang patah hati karena ditinggal sang pujaan hati.
Aku berkembang menjadi seorang anak ABG yang rasional dan logis. 😀

**

Hingga, masa itu tiba …
Si cupid rupanya berhasil mengobrak-abrik pertahananku. Ehm… aku kalah. Yups. Tepat pada saat aku menginjak bangku SMA, “musibah” itu datang. “Musibah” cinta.

Dia, adalah kakak kelas yang sama sekali tak kukenal. Panggil aja Mister Cool, karena wajahnya memang cool. Konon katanya sih dia idola banyak wanita, karena pembawaannya yang cool dan kalem juga alim *jangan sampek deh Mister Cool baca ini, ntar dia ke-ge er-an*, he he.

Tahun 2002 bulan agustus, di ruang 17 (Lab. Biologi), hari jumat, jam 9-an bertepatan dengan OPEN HOUSE memperingati hari ulang tahun sekolahku yang ke-50 *dooh lengkap banget yak* adalah kali pertama aku melihatnya.

Dia adalah Ketua Kopsis, Ketua Biologi, dan satu lagi yang bikin bulu kudukku berdiri DIA ANAK ROHIS!! *CATETT*.

“Namamu siapa?” tanyanya tiba-tiba saat memeriksa golongan darahku.
Yups, dia memang bertugas sebagai pemeriksa golongan darah kala itu.
“Miyosi,” jawabku singkat.
“Siapa? Biyosi?” tanyanya lagi tak jelas karena suaraku hancur di udara dikalahkan oleh suara musik di luar sana yang gegap gempita.
Mas ini cakep-cakep kok bolot sih. Kataku dalam hati.
“Miyosi Kak,” jawabku sopan.
Si Mister Cool Cuma manggut-manggut dan meneruskan tugasnya yaitu memeriksa golongan darahku.
Setelah kejadian itu, kami tak pernah bertemu. Dia disibukkan dengan persiapan UAN, sedangkan aku disibukkan sebagai siswa baru yang menempati kelas khusus.

**

Kena Batunya…
Sejak kapan ya rasa itu ada. Ehm… apa mungkin sejak pertama kali kujumpa dengannya?!
Di satu sisi, ada yang membisikku bahwa aku tak boleh lemah hati. Di sisi lain si cupid mulai sedikit berhasil mempengaruhi pertahananku.

Ke mana diriku yang logis itu. Yang tak akan tunduk dengan yang namanya lelaki kecuali bila tiba waktunya nanti. Wanita seperti permata yang bila tergores takkan ada harganya lagi.
Itulah kata-kata yang terus menghantuiku sepanjang waktu.

Entah darimana datangnya, hingga semua teman-temanku tahu akan perasaan gak jelas yang aku dan Mister Cool itu rasakan. Mungkin dari pandangan mata? Dari gerak-gerik kami yang tak biasa bila tak sengaja bertemu pas moving class? Entahlah.

“Yosi, kamu suka ya sama Mister Cool,” tanya salah satu temanku yang usil.
“Wuekkk byorr,” aku pura-pura muntah padahal hatiku tegang gak karu-karuan.
Jangan sampek orang-orang tahu akan perasaanku. Ih… nggak banget, mo ditaruh di mana mukaku.
“Sorry ya, Mister Cool itu bukan tipeku, ngeliatnya aja bikin aku pengen muntah,” jawabku.
Huuu…. Jawab teman-teman sekelasku.

**

“Temen-temen, mulai detik ini, aku gak mau menginjakkan kaki di kopsis, kalau laper ya beli aja di kantin!!!” kataku suatu hari pada teman-teman se geng ku.
“Lhoh kenapa? Pasti karena ada Mister Cool yang sering nongkrong di Kopsis yahl,”
“Eh… Mister Cool tuh kayaknya suka juga deh Yos sama kamu, lihat pandangan matanya pas dia ngeliat kamu,” kata temanku ngomporin.
“Wuekk, jijay ah, males aku,” jawabku padahal dalam hati ya rada-rada senang gitu. He he.

Intinya meski sejujurnya aku suka, tapi aku males banget jijay najis n haram hukumnya buat mengumbar. Biar hatiku saja yang tahu. Kalau toh teman-temanku pada “ngeroyok” aku, aku kan tetap bilang kalau aku gak suka dengan si Mister Cool itu. Gak banget lah, masak iya agresif banget. Hal itu gak ada dalam kamus hidupku.

Tapi semakin aku bersikap benci, muneg, muntah, dan mual, semakin ketahuan kalau aku memang ada rasa dengan dirinya. Apalagi aku selalu berbalik arah bila pas kebetulan aku melihat dia di jalan. Intinya, aku tak mau ketemu mukanya, daripada jantungku copot. Cinta yang aneh bukan.

**

Tak perlu kuceritakan gimana prosesnya, karena gak cukup sehari sih, he he. Intinya si Mister Cool ngajakin aku ketemuan di hari Sabtu.

Di rumah aku ketawa ngakak. Yess… si Mister Cool kalah, akhirnya dia yang gak kuat nahan perasaannya.

Mo kuat-kuatan sama aku?!?!? Silahkan Bang!! Aku yang terlahir dan dididik dengan didikan Jawa yang kental ini, sudah terbiasa memendam perasaan demi sebuah harga diri meski seribu tahun lamanya. Nah Lho, skarang siapa yang gak kuat. Wkwkwkwkwkwkwkwk *ketawa setan penuh kemenangan*.

***

3 Comments on Cinta Monyet Never Forget, Serius?

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*