Refleksi Empat Bulan Pertama Tahun 2015

Assalamu’alaikum,

Haii, udah lama banget saya enggak ngeblog. Terakhir akhir Maret. Sekarang, udah hampir menjelang Meii. MasyaAllah. Itu artinya, saya (kita semua tepatnya) sudah hampir melewati setengah perjalanan tahun 2015 ini. Waktu begitu cepat berlalu, yaa. Duniaa oh duniaa.

Baiklaah. Saya ingin sedikit bercerita apa saja yang terjadi selama Februari sampai dengan April ini. Tentu, tidak semua peristiwa saya ceritakan. Beberapa (banyak sih) cukup hanya Allah dan saya saja yang tahu. 😀

Sedikit menengok ke Januari, yaa. Alhamdulillah buku #KuliahVsKuliAh yang saya tulis bersama Mbak Erna, terbit pada 20 Januari 2015 (20-1-2015). Proses pembuatan buku ini sampai terbit bisa dibilang cukup lamaa. Mulai dari 2009.

Selain buku, di bulan yang sama (Januari), artikel saya berjudul “Saling Mengerti, bukan Menghakimi” muncul kembali di Majalah Insani edisi pertama tahun 2015.

Di bulan tersebut, saya menyelesaikan naskah kumpulan soal (bank soal) yang sebentar lagi akan terbit. Naskah tersebut saya tulis tandem bersama Mbak Ulfah Khaerani, partner menulis saya untuk buku-buku kumpulan soal.

Untuk urusan non-kepenulisan (baca: organisasi PIPEBI dan IWABA), saya tetap dengan tugas saya seperti sebelumnya yaitu sekretaris (PIPEBI). Sedangkan di IWABA, saya diamanahi juga untuk menjadi sekretaris menggantikan Bu Dini (Bu Yusda) yang bertugas menjadi bendahara. Tampang sekretariskah saya? Kenapa sejak dulu, saya selalu didapuk menjadi sekretaris, ya. *nanya, tapi menerima* 😀 :)

Di arisan perdana PIPEBI tahun 2015, saya berkesempatan mengisi acara bertajuk “Dari PIPEBI untuk PIPEBI” tentang Working From Home. Saya berharap, makin banyak ibu-ibu yang terinspirasi dan tidak lagi memandang rumah sebagai jeruji besi karena di rumah pun kita bisa melakukan apa saja yang kita suka.

Januari 2015, saya lewati dengan lancar. Alhamdulillah.

Mengawali bulan Februari, tepatnya 11 Februari 2015 (11-2-2015), buku antologi saya bersama teman-teman FLP Bekasi, terbit. Buku berisi kumpulan kisah inspiratif yang digawangi oleh Mbak Manda ini juga prosesnya cukup lamaa. Sejak tahun 2009 kalau enggak salah. Menerbitkan buku tidak seperti membuat mie instan, kan? 😀

Maret 2015, saya baru tahu kalau salah satu buku suntingan saya tentang anggrek terbit. Sebenarnya, buku yang membahas tentang budidaya anggrek tersebut sudah terbit akhir tahun 2014. Tapi, saya baru benar-benar tahu yaa Maret 2015 itu. Wew.

April 2015, saya ingin bersyukur pada Allah karena di bulan April ini ada begitu banyak hadiah yang Allah kasih kepada saya. Bukan berarti sebelum-sebelumnya, saya tidak bersyukur sih yaa.

Seperti yang sudah saya ceritakan di sini, bahwa di tahun 2014, saya tiak terlalu produktif menulis. Kegiatan saya “hanya” menulis di media cetak (Majalah Insani) dan proofreading naskah akuntansi terjemahan di salah satu penerbit mayor. Saya memiliki prioritas lain di tahun itu. Namun rupanya Allah belum menghendaki. Sembari terus berusaha tentunya ya, saya memang sudah bertekad bahwa di tahun 2015 ini saya harus produktif. Dan, rupanya doa saya diijabah. Alhamdulillah.

Pertama, saya mengerjakan proyek penulisan kumpulan soal bersama Mbak Ulfah dari salah satu penerbit mayor.

Kedua, saya dan Mbak Ulfah mendapat amanah lagi dari penerbit mayor (yang lain). Saat ini, naskahnya sedang saya kerjakan.

Ketiga, saya mendapat lagi proyek dari penerbit mayor yang jumlahnya (jumlah naskah/bukunya) lumayan bangett (tidak bisa saya tuliskan, nanti sajalah kalau sudah terbit).

Keempat, lagi-lagi berita gembira itu saya terima. Kali ini dari penerbit yang berbeda.

Saya yakin, setiap orang memiliki target dan motivasi sendiri dalam melakukan sesuatu. Saya pribadi tidak terlalu “peduli” dengan target yang dimiliki orang lain. Buktinya, di tahun 2014, ketika teman-teman saya banyak yang “melahirkan” buku, saya? Karena pada waktu itu saya memang punya rencana lain. Satu-satunya motivasi yang membuat saya terus bersemangat menulis adalah …. Tidak bisa saya tuliskan di sini. Biarkan hanya saya dan Allah saja yang tahu. Penuh misteri banget, yaa. Yang jelas sih, saya melakukan sesuatu selama ini bukan karena ikut-ikutan orang. Enggak Gueee bangett, Booo. Xixixi. Motivasi yang saya miliki tersebut mampu membuat saya bangkit setiap kali saya mulai lelah. Kata pepatah, harga diri bisa mengalahkan rasa sakit. 😀

Di bulan yang sama (April), selain disibukkan dengan tugas-tugas menulis, saya sibuk mempersiapkan peringatan hari Kartini yang acaranya digabung (IWABA dengan PIPEBI). Persiapannya sebenarnya cukup singkat dan kilat karena masing-masing pengurus (ibu-ibunya) memiliki kesibukan sendiri-sendiri dan beberapa di antaranya di luar kota. Jadi, kami lebih banyak berkomunikasi dan rapat secara online. Alhamdulillah, saat hari yang dinanti tiba, tidak ada masalah dan hambatan yang berarti. Saya bertugas sebagai MC. Jadi ingin bertanya juga, apa saya bertampang MC? Kenapa sejak dulu selalu mendapat amanah sebagai pembawa acara. Jadi kepikiran buat merambah side job yang lain. Hahaha. Masih wacanaa, yaa. Tenaangg.

Okee. Akhirnyaa, April yang tinggal dua hari lagi ini saya lewati dengan in syaa Allah LANCAR.

Berikutnyaa: MEI

Ehm … PR saya bakalan baanyaak. Tapi, saya senang dan bersyukur. Tidak ada hal lain memang yang bisa saya katakan selain itu. Hanya Allah yang tahu apa sebabnya. :)

Semangat, yaa!!

Wassalamu’alaikum

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*