Partner “So Close”

“If a friendship lasts longer than 7 years, psychologists say it will last a lifetime”

Saya sangat mengamini (dengan sungguh-sungguh) quote supermanis di atas.

Memang, salah satu alasan yang membuat hidup kita indah (di antara segala macam tantangan yang bermunculan) adalah keberadaan sahabat (selain keluarga, tentunya). Bisa dibayangkan kalau garing-garing aja enggak punya sahabat, mau sekaya atau sekeren apapun, semuanya tidak akan ada artinya. :)

Sahabat sendiri “dibentuk” (jika saya boleh menyebutkannya demikian) secara natural, TIDAK ADA PAKSAAN SAMA SEKALI. Dua-duanya (atau lebih) harus klik, harus ada chemistry, yang semua itu benar-benar terjadi secara natural. Bisa jadi, saya dan A tidak ada chemistry, tapi ternyata si A dan kakak saya bisa klik, atau sebaliknya. Tidak ada yang salah, kalau emang enggak atau belum “jodoh” mau gimana lagi. Yang namanya perasaan itu kan enggak bisa dipaksa, ya. 😀

Teman, tentunya bisa sangat banyak (bangett), tapi sahabat tidak, terutama bagi orang introvert. 😀

Bukan masalah pilih-pilih, bukaaaannn, hadeuh berteman mah sama siapa aja yaa enggak boleh pilih-pilih, tapi kalau tingkatannya sudah lebih jauhh (sahabat), ini berkaitan dengan masalah kecocokan yang sifatnya tak terlihat (seperti yang sudah disebut sebelumnya, masalah chemistry), benar-benar masalah perasaan dan TIDAK ADA HUBUNGANNYA dengan yang lain. Tidak ada satu pun orang yang bisa memaksa hal-hal yang berkaitan dengan perasaan kan, yaa, ciee.  😀 😀

Saya sendiri sangat bersyukurr (alhamdulillah) karena memiliki banyak sahabat. Meskipuun, ukuran banyak atau sedikit itu setiap orang beda-beda (sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing).

Salah seorang sahabat -yang akan saya ceritakan kali ini- adalah partner menulis sejak 2009. Enggak tahu kenapa, di antara sekian banyak sahabat -yang semua kereenn-, saya ingin bercerita dulu tentang sahabat saya yang rumahnya di Depok ini. Mungkin, karena saat ini kami sedang mengerjakan proyek menulis dari salah satu perusahaan. Dan saat sayaa mencari sesuatu untuk proses pengerjaan proyek tersebut, ndilalah malah menemukan percakapan zaman “prasejarah” dengan Miss So Close. Hasrat untuk menuliskan sedikit aib bersama itu pun spontan lahir begitu saja. 😀 😀

Jadiii, anggap aja ini intermezo di tengah proses penulisan. :)

Btw, untuk sahabat-sahabat saya yang lain, jangan jealous, yaa. Akan segera hadir edisi (cerita) bersama kaliaan semuaa, kok. Akan segera hadir tulisan tentang masa-masa panas kepanasan hujan kehujanan dan haus kehausan bersama kalian semuaa. *peluksatu-satu*

Sekarang, edisi bersama Miss So Close dulu, yaaa. Tentunyaa, tidak semua aib memori kami, saya upload di sinii, yaa. Hoho. 😀

Foto: Dokpri
Foto: Dokpri

Sebenarnya, kami (saya dan Miss So Close) sudah kenal sejak 2009 di sebuah antologi (dimana saya menjadi salah satu PJ-nya), tapi belum terlalu akrab (untuk cerita masalah-masalah pribadi yang tidak ada kaitannya dengan menulis). Maklum, saya pendiam. Huehehehehe *muless. Bagi saya (lagi) hubungan persahabatan itu beneran natural dan tulus, TANPA MODUS. Semisal, “Kalau kamu masih bermanfaat, kusayang. Kalau kamu sudah gak berguna, kubuang dan kujelek-jelekkan,” Wew Na’udzubillah. Atauuu, semisal lagii, si A ngedeketin B karena tujuan tertentu. Si A mencari muka di depan semua sahabat-sahabat B -dengan menjelek-jelekkan B- demi keuntungan dia sendiri. Lagi-lagi, ini enggak banget. Sahabat itu TULUS dan APA ADANYA, dari hatii dan saling memotivasi. :) #melankolismodeon lol

Maaf, OOT

Nah, di tahun 2010 ituu (seperti yang tertulis pada gambar), ternyata kami terlibat proyek lagi sebagai penulis artikel di sebuah website. Dari situlah kemudian saya dan Miss. So Close mulai dekatt (di antara sekian banyak penulis di website tersebut, bisa dibilang kami  akhirnya menemukan chemistry untuk menjadi lebih dekat satu tahap -bahasa gueeehh haha-). Semua terjadi begitu saja, enggak ada yang nyuruh. 😀

Foto: Dokpri
Foto: Dokpri

Nyampah di inbox yang kadang-kadang tidak ada kaitannya dengan dunia tulis menulis sudah menjadi hal yang biasa (FYI: duluuu masih belum ada WA, yaa)

Foto: Dokpri
Foto: Dokpri

Foto: Dokpri
Foto: Dokpri

ju5
Foto: Dokpri

Salah satu persamaan kami adalah sama-sama lugu (dalam artian selalu berpikir positif dan enggak neko-neko). Lha, ngapain juga ngebebani pikiran dengan dikit-dikit curiga, dikit-dikit cari perkara, kayak enggak ada kerjaan lain aja. Ini kelebihan sekaligus kekurangan, sih. Mengutip kata-kata mamany Cinderella: be brave & be kind. Jadii, baik aja enggak cukup, harus berani (saya artikan dalam konteks ini sebagai TELITI). Dan, alhamdulillah, yang terjadi di masa lalu selain menjadi kenangan (untuk kejadian yang manis-manis) juga menjadi pelajaran (untuk hal yang pahit-pahitnya). :)

Foto: Dokpri
Foto: Dokpri

:) :) :)

No comment untuk bagian yang rada nyesek ini :) :) :)

Foto: Dokpri
Foto: Dokpri

Kesamaan kami yang lain adalah sama-sama suka/hobi belajar. Baik dulu maupun sekarang dan semoga nanti. Aamiin. Bila pun dari hasil rajin belajar di masa lalu (masa-masa sekolah dan kuliah) tersebut kemudian ternyata ilmu kami berguna (bisa dikaryakan) yaa alhamdulillah banget. Itu efek samping. Namun sejatinya, belajar memang menyenangkan (tanpa harus bermodus ilmu kita nantinya berguna atau enggak atau tahu akan berguna dulu untuk sesuatu baru belajar). Iyups, belajar itu menyenangkan daripada bergosip. Dan lagi, tidak ada ilmu yang sia-sia, janji Allah gitu. :)

Di 2011 itu, kami mulai mengerjakan proyek bersama dalam bentuk buku (jika sebelumnya proyek artikel saja). Dan alhamdulillah, sampai sekarang. Ada kalanya, kami seproyek, tapi tidak sebuku. Pun adakalanya kami tidak seproyek dan tidak pula sebuku. Xixixi. Tapi yang jelas, saling mendukung, aamiin. Persahabatan positif ituu bikin makin cantik menyenangkan. Semoga sampai nanti. Aamiin. :) 😀

Daaan, ini beberapa karya kami bersamaa

Terbit 2011 Foto: Dokpri
Terbit 2011
Foto: Dokpri

 

Terbit 2012 Foto: Dokpri
Terbit 2012
Foto: Dokpri

 

Foto: Dokpri
Foto: Dokpri

 

Foto: Mbak Venus
Foto: Mbak Venus

 

Alhamdulillah, buku duo kami yang terbit 2015 masuk menjadi buku pilihan (yang direkomendasikan). Semoga segera menyusul karya duo lainnya, ya. Doakeeuun. 😀

 

Daan, iini manusianya: 😀 😀 😀

@ bedah buku nikah muda nggak bikin mati gaya Foto: Mbak Ul
bedah buku nikah muda nggak bikin mati gaya @ mesjid sunda kelapa, jakarta
Foto: Mbak Ul

 

bedah buku (antologi) @ rri Foto: Bunda April
bedah buku (antologi) @ rri
Foto: Bunda April

Tunggu cerita selanjutnya bersama sahabat-sahabat kereenn sayaa yang lainnya, yaaa. :) 😀

#persahabatanpositif
#sehatjiwaragapikiran

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*