Belajar dari Wawancaraku Hari Ini: Wanita yang “Benci” Laki-Laki :)

Hari ini, aku mewawancarai (untuk bukuku) seorang wanita yang di mataku luar biasa, hebat, dan mandiri. Aku udah izin ke ybs untuk menuliskan sedikit obrolan kami di blog.

Wanita ini memiliki beberapa usaha yang bisa dikatakan cukup sukses di kotanya. Suami beliau sendiri adalah seorang kepala cabang, enggak perlu kusebut di mana. ๐Ÿ˜€

Sejak obrolan pertamaa, aku udah merasakan sisi kolerisnya yang sangaat dominan. Aku sih malah suka, yaa. Secaraa, orang koleris kuat begitu dipancing dikitt, pasti udah cerita ke mana-mana dengan penuh semangat, berapi-api. Sebagai penulis (yang juga suka mendengarkan cerita orang) pasti seneng kalau semua narsum terbuka bangett seperti beliau.

Obrolan kami seputar wanita mandiri, berdikari, bisa berdiri sendiri, dan enggak tergantung sama laki2. Wew, horror banget. Entah kenapa, wanita berhijab tersebutt semangat bangett ngomongnyaaa.

“Sepertiny, Mbak benci banget ya sama sosok laki2,” ucapku dengan nada luwess. Aku berani ngomong dan sotoy seperti ini ya karena orangny emang tipe2 yang terbuka bangettt.

Dan, ternyata, wanita tersebut membenarkan. Wah, berbakat jadi peramal.

Padahal, suami wanita tersebut baik, terlepas dari kekuranganny sebagai manusia yang pasti adaa.

“Mbak, tahu gak, penyimpangan itu enggak cuma masalah l g b t ajaa, tapi juga ini. Benci laki2, benci perempuan, dll” kataku lagi

Alhamdulillah, beliau enggak tersinggung. Malah membenarkan. Inilah bedany bahasa tulisan dan omongan. Kalau bahasa tulisan, apalagi enggak kenal2 bangett, potensi konflik karena kata2 yang ambigu dan sensitif itu besarr, bedaa kalau ngomong langsung. Eh, maaf, oot. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Kami ngobrol banyaaak hal. Diskusi seruu inii ituu. Alhamdulillah, aku mendapatkan banyak ilmu.

Imho, selalu ada luka yang dalam dari setiap penyimpangan (apapun bentuknya). Dan, hanya ybs yang tahu. Jika mau jujur, jika mau merendahkan hati, pastii ada, pastiii, luka dari masa lalu yang bikin syok kemudian menyimpang itu pastii adaa. :)

Inilah yang kata Bu Elly Risman yang intinyaa kita harus TUNTAS dengan kekecewaan di masa lalu. HARUS. Karena kalau enggak, orang2 di masa sekarang yang enggak salah akan jadi korban pelampiasan. (Aku tulis lagi materi beliau dengan kalimat dan bahasaku sendiri)

Aku mendoakan agar keluarga wanita tsb bahagia dunia akhirat. Aamiin.

Aku sendiri, jujur, sangat membutuhkan suamiku seperti dia membutuhkan aku. Ciee. LOL (ngerusak suasana)
Semoga kami bisa maju bersama, belajar bersama, dan saling mendukung. Aamiin.

Jika kita menghitung-hitung nikmat Allah, maka kita tidak akan pernah bisa menghitungnya karena saking banyaknya. #ntms yang kata-katanya terinspirasi dari salah satu ayat alquran

:) :)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*