Being A Socialpreneur

Di kampung ini, hanya aku tumpuan mereka, anak-anak itu. Maaf, bukan bermaksud sombong, tapi memang yang memiliki kemampuan untuk bisa mengajar privat cuma-cuma dan MAU MENGAJAR ya hanya aku saja.

Sebenarnya, ada beberapa orang yang memiliki jasa les privat. Harus membayar, tentu saja. Dan, sekali lagi maaf, bagi anak-anak yang kedua orangtuanya bekerja sebagai buruh tani, hal itu agak sulit diwujudkan. Untuk makan sehari-hari saja cukup sulit. Bisa sekolah di negeri juga karena gratis.

Iya, aku memang anak kampung (desa). Kebetulan, sejak SD hingga kuliah, aku selalu masuk sebagai siswa yang diperhitungkan. Sehingga, biar pun awalnya aku sempat di-bully hanya karena aku anak kampung sedangkan teman-temanku anak kota (iya, aku anak kampung yang bersekolah di kota/tempat favorit), mereka pada akhirnya diam dan sungkan setelah melihat prestasiku.

Berkaca dari situlah, aku kemudian memiliki keinginan bahwa anak-anak di kampungku harus tumbuh sebagai anak yang hebat, cerdas, dan penuh percaya diri. Tidak perlu peduli dan malu dengan profesi orangtua. Aku berkeyakinan, salah satu cara agar kita tidak terus-menerus di-bully adalah dengan menjadi pintar. Aku sudah cukup membuktikannya selama ini.

**

Kondisi anak-anak di kampungku sendiri mayoritas sama: pemalu dan minder ketika harus berhadapan dengan anak-anak kota dalam sebuah even. Hal itu yang membuat aku gemas. Kenapa harus ada rasa minder, padahal sama-sama manusianya.

Rupanya, sikap mereka juga dipengaruhi oleh didikan kedua orangtua mereka yang mayoritas berkata bahwa tidak perlu bercita-cita tinggi karena tidak ada gunanya.

“Kita harus berkaca kita ini siapa. Jangan pernah bercita-cita tinggi. Sudah, terima nasib saja seperti ini,” begitulah kurang lebih.

Dan tentu saja, aku tidak setuju. Tapi, mengecam atau berkata yang menyinggung perasaan juga bukan solusi. Bagaimana pun aku menyadari, kurangnya informasi membuat seseorang jadi berpikiran sempit. Aku tidak akan menuntut orangtua di kampungku untuk rajin membaca dan meng-update informasi, tidak akan, karena menurutku tidak sopan. Yang bisa kulakukan adalah “menyelamatkan” anak-anak mereka dengan mengajar gratis yang di dalamnya kusisipi nilai-nilai kehidupan dengan tujuan agar mereka berani bercita-cita.

**

Rumahku yang bisa dibilang cukup luas menjadi tempat anak-anak di kampungku tersebut les privat gratis. Awalnya, aku hanya mengajak satu anak saja yang cukup sering datang ke rumah untuk bertanya PR akuntansi. Dari mulut ke mulut, kemudian datanglah anak-anak di kampungku dengan maksud sama: minta diajarin mengerjakan PR.

TK, SD, SMP, hingga SMA dan untuk semua mata pelajaran. Saat itu, aku sendiri masih baru masuk kuliah.

Bagaimana caraku membagi waktu? Kurang lebih seperti ini:

Aku mengusahakan untuk mendapat jadual kuliah pagi. Kebetulan, aku mahasiswa reguler (sebutan untuk mahasiswa yang masuk melalui jalur SPMB atau PMDK) yang mendapat jatah masuk kuliah pagi sampai siang, maksimal sore. Walaupun, tidak menutup kemungkinan, aku juga bisa “terjungkal” di kuliah malam karena kondisi khusus seperti dosen yang sengaja mengganti jadual dari pagi ke malam atau alasan lain.

Dari pagi hingga siang, aku kuliah. Sisanya (siang hingga sore), aku mengajar di sebuah bimbel ternama di kotaku. Sore hingga malam, waktuku buat anak-anak kampung. Dan, di sisa hari, waktuku mengerjakan tugas-tugas kuliah sembari belajar.

“Niat banget, sih! Gak dibayar pula!”

Iya, aku tak memungkiri jika ada yang berkomentar seperti itu. Sudah tidak dibayar alias cuma-cuma, kok ya mau-maunya. Apa itu namany tidak buang-buang waktu.

Aku tidak terlalu memusingkan komentar orang lain. Apalagi, niatku melakukan ini memang bukan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan. Jadi, terserah saja orang lain mau berkata apa. Aku sungguh-sungguh ingin sedikit membantu anak-anak di kampungku walau dengan sesuatu yang sepele.

Kata kedua orangtuaku, jika kita tidak bisa membantu dengan uang, setidaknya dengan tenaga atau pikiran. Jika tidak bisa membantu dengan tenaga dan pikiran, setidaknya membantu dengan kata-kata penuh semangat. Jika tidak bisa suka, setidaknya tidak mencela atau diam. Itu saja yang jadi peganganku.

Karena kegiatan itu, aku jadi tidak bisa berlama-lama di kampus, apalagi sekadar untuk kongkow-kongkow tidak jelas. Bagiku, setiap detik sangat berharga. Ada wajah lugu anak-anak kampung yang meminta bimbingan yang meluruskan niatku yang tadinya ingin berbelok, seperti kumpul-kumpul tidak jelas.

Aku hampir tidak pernah beristirahat. Senin hingga senin lagi, aku beraktivitas. Tidak pernah merasakan yang namanya gaul dengan teman-teman sepermainan atau hal-hal serupa. Waktuku habis untuk kuliah, mengajar di bimbel, dan mengajar anak kampung.

Aku sama sekali tidak menyesal karena masa-masa kumpul-kumpul dan “keluyuran” dengan teman-teman sepermainan itu sudah kulalui. Ketika aku sudah kuliah, sudah saatnya berpikir ke arah yang lebih serius dan melakukan sesuatu yang berarti bagi lingkungan.

**

Apakah murid-murid lesku di kampung aman-aman saja atau tidak ada yang membuatku senewen? Tentu saja ada yang membuatku gemas karena tingkahnya yang kurang sopan. Tapi, aku sadar, yang berperilaku seperti itu sebenarnya hanya ingin pengakuan. Ya, mereka tidak ingin disebut sebagai anak kampung sehingga berperilaku sok gaul. Aku tidak boleh mencela karena bisa jadi mereka belum paham. Aku harus meluruskan bahwa jika ingin benar-benar gaul, hal yang harus dilakukan adalah belajar giat dan berprestasi sebanyak mungkin, bukan dengan berperilaku “aneh” seperti itu.

Ada juga kejadian yang membuatku sangat tersentuh. Kali ini berhubungan dengan orangtua salah satu anak didikku. Si bapak adalah seorang pemecah batu, sedangkan si ibu adalah pembantu rumah tangga. Suatu ketika, mereka berdua datang ke rumah. Mereka memberiku amplop. Awalnya aku menolak, tapi mereka memaksa. Si bapak bahkan berkata yang sedikit membuatku kelu,

“Tolong diterima ya, Mbak. Saya dan Ibunya A sudah nabung sejak sebulan yang lalu. Tolong ya, Mbak,” katanya penuh harap.

Maka, demi membuat mereka tidak tersinggung, aku pun menerima amplop tersebut. Setelah aku cek, isinya selembar uang berwarna hijau muda: uang dua puluh ribu rupiah.

Ya Allah, aku sama sekali tidak pernah menginginkan balasan seperti ini. Aku benar-benar ingin menolong anak-anak kampung itu. Bersekolah di sekolah negeri yang satu kelas terisi banyak anak dengan guru yang hanya satu saja per kelasnya tentu membuat mereka kehilangan konsentrasi. Tidak heran jika banyak di antara mereka yang kurang paham dengan penjelasan guru. Ingin bertanya kepada ibu atau bapak di rumah, rata-rata kedua orangtua mereka tidak punya waktu dan bahkan tidak mengerti. Lalu, siapa yang akan membantu mereka. Apakah tega membiarkan mereka seperti itu, hidup dalam “kegelapan”.

Aku terharu dengan perhatian salah satu orangtua anak didikku di kampung. Bukan masalah nilainya, tapi perhatiannya.

Kedua orangtuaku sendiri seratus persen mendukung kegiatan positifku tersebut. Ibu kadang-kadang membuatkan camilan untuk anak-anak didikku. Mereka sama sekali tidak komplain dengan berisiknya suara dan ruangan yang hampir tidak pernah bersih. Mereka justru senang karena rumah jadi ramai. (FYI: aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku sudah lama menikah)

**

Masalah muncul ketika aku berencana untuk menikah setelah kuliah. Aku memang sudah memiliki calon suami yang tak lain adalah kakak tingkatku. Dia berencana untuk menikahiku setelah lulus kuliah dan aku pun setuju. Dia juga berkata bahwa setelah menikah, aku akan dibawanya merantau ke tempat yang jauh.

Bagaimana dengan mereka, anak-anak didikku di kampung?

Aku paham bahwa ini semua pasti akan terjadi: perpisahan. Cepat atau lambat. Beberapa muridku memang sudah ada yang terbukti mengalami kemajuan. Namun, ada juga yang belum. Bagaimana jika yang belum mengalami kemajuan tersebut kutinggal begitu saja. Aku jadi merasa jadi orang jahat. Sisi hatiku yang lain berkata bahwa sudah saatnya aku mulai memikirkan kehidupan pribadiku sendiri.

“Adek-adek, kalian harus mandiri, ya. Semisal Mbak enggak bisa nemenin kalian belajar lagi, kalian enggak boleh males. Harus tetep rajin belajar. Ini demi kalian sendiri,”
“Memang mau ke mana, Mbak? Di sini aja, kan?”

Aku tersenyum. Pertanyaan polos. Apa mereka belum paham jika yang namanya perpisahan itu mutlak akan terjadi. Oh, aku paham sekarang. Di kampungku, memang jarang ada orang yang pergi jauh (merantau), kecuali ayahku saja yang saat itu bekerja di luar pulau. Jadi wajar kalau mereka tidak terbiasa dengan perpisahan. Sebagian besar penduduk di kampung ini memang lahir, besar, bekerja, dan menua di sini. Aku sendiri juga baru pertama kali merantau ke tempat yang jauh dari rumah. Entah seperti apa rasanya kelak.

“Mbak akan menikah lalu ikut bersama suami Mbak,” jawabku singkat sembari memandangi wajah mereka satu per satu.
“Kenapa tidak di sini saja, Mbak?”
“Rezekinya ada di kota yang berbeda, sayang. Mbak nanti akan sering pulang kok. Kalian janji ya sekolahnya rajin. Katanya mau keliling dunia,” kataku menghibur.
Wajah mereka masih nampak sedih, walaupun menjawab serempak, “Iyaa,”

**

Aku bukanlah pengajar yang lembut dan baik hati. Bahkan, gaya mengajarku cenderung galak dan sangar. Mungkin, ini meniru gaya mengajar bapakku: like father like daughter.

Aku tidak segan-segan bertanya dengan nada tegas kepada mereka yang duduk di kelas enam SD dan SMP. Sedangkan untuk mereka yang masih TK, aku memang sedikit lunak. Untuk muridku SMA, aku bergaya layaknya teman sebaya mereka. Sejauh ini, semua berjalan lancar. Alhamdulillah.

“Satu kali nol berapa?” tanyaku pada salah satu muridku kelas empat SD yang baru saja datang.
Pertanyaan tersebut semacam brain storming. Selain itu, untuk mengetahui juga apakah dia termasuk anak yang mudah fokus atau tidak.

“Nol, Mbak?” jawabnya santai
“Serius?!?!” tanyaku lagi penuh selidik
Dia mulai ragu, “Eh, satu, Mbak,”
“Yang bener yang mana?” tegasku sambil menatap matanya tajam
“Nol, Mbak?”
“Lhoh, gimana, sih?”
“Eh, satu,”
“Udah, jangan plintat plintut, yang bener yang mana: satu kali nol sama dengan berapa?” tanyaku tegas dengan wajah (agak sedikit) jutek.
“Nol,” jawabnya lirih
“Iya, bener. Kenapa kamu mesti ragu-ragu kalau kamu yakin jawabanmu benar. Jangan biarkan orang lain menumbangkan keyakinanmu. Penting lhoh itu!”
Salah satu muridku yang lugu itu pun hanya tersenyum, tapi sorot matanya penuh keyakinan seolah berkata, “Siap, Mbak!!”

Bagiku, mengajar tidak hanya sekadar mengajar. Tapi, juga menuangkan idealisme. Jika mau jujur, aku lebih menikmati mengajar anak-anak kampung daripada mengajar anak-anak di bimbel. Padahal, di kampung aku tidak dibayar atau bila pun ada yang bayar ya sifatnya sukarela, sedangkan di bimbel aku dibayar PANTAS. Tapi, ternyata uang tidak bisa membeli kenyamanan hati dan idealisme. Iya, jujur, aku lebih suka mengajar anak-anak kampung yang masih polos dan yang orangtuanya “pasrah” percaya kepadaku sehingga aku tidak merasa diintimidasi.

“Anak saya kok nilainya tetep aja ya, Mbak, padahal udah les di sini. Tapi, tidak ada perubahan,” salah satu komplain yang aku ingat, komplain dari salah seorang wali murid bimbel.
“Mbak, maaf ya kalau repot jadinya. Makasih juga karena anak saya udah diajarin. Saya ndak bisa ngasih apa-apa selain doa, Mbak,” kata salah seorang ibu yang lugu dan polos, ibu dari muridku di kampung.

Mungkin itu juga yang menyebabkan aku merasa sangat sedih ketika mendapati kenyataan bahwa sebentar lagi aku tidak akan bisa mengajar mereka lagi. Ada rasa kehilangan. Ada rasa kasihan juga: bagaimana mereka nanti?

**

Akhir tahun 2008, aku resmi berpisah dengan mereka, murid-muridku.Terus terang, aku masih galau: siapa kira-kira yang mau mengajar secara cuma-cuma. Sedangkan beberapa temanku menyatakan “menyerah” ketika kutitipi mereka.
“Maaf, ya. Bukannya aku enggak peduli. Tapi, kamu tahu sendiri kan. Aku laki-laki yang sudah berkeluarga, punya anak pula. Prioritas utamaku untuk saat ini adalah keluarga kecilku dulu.

Maaf, ya,”
“Sudah saatnya mereka mandiri. Lagian juga memang kamu enggak mungkin selamanya dengan mereka,”

Aku hanya tersenyum mendengar penolakan beberapa temanku. Walaupun dalam hati, aku tidak rela jika anak-anak berpotensi untuk menjadi “sesuatu” itu harus terhempas hanya karena tidak ada yang membina dan kurang informasi.

“Kalian jangan menyerah. Awas aja kalau pada males. Walaupun udah enggak ada Mbak, tapi jangan dikira kalau Mbak enggak tahu apa-apa, ya! Kalian mesti rajin. Apapun cita-cita kalian nanti, pilihlah dengan yakin! Itu aja!” pesan “terakhirku” pada mereka sesaat sebelum aku pergi.

**

Enam tahun berlalu sejak kepergianku ke rantau. Beragam cerita kuterima. Ada salah satu muridku yang meninggal mendadak tepat saat ia diterima di SMP favorit. Ada juga yang saat ini sudah kuliah di PTN dan alhamdulillah mau “menyisihkan” waktunya untuk mengajar anak-anak kampung. Ada yang sekolah di STM dan sekarang bekerja di pabrik untuk modal kuliah. Pun ada yang mengabdikan dirinya di pondok pesantren. Apapun jalan hidup yang mereka pilih, selama itu baik, tentu aku akan bangga.

Mengajar memang tidak hanya dianggap sebagai kewajiban, tapi investasi. Apa yang akan terjadi jika semua pengajar, dari mana pun levelnya, menganggap murid-murid mereka adalah investasi berharga. Tentu mereka akan memberikan yang terbaik dan tidak hanya sekadar mengharap materi saja. Aku sangat yakin, ketika kita memikirkan untuk menyelamatkan “nyawa” seseorang, Allah juga akan membantu melancarkan urusan kita. Allah akan memberikan kita rezeki dari arah yang tidak terduga-duga. YAKIN!!

(Berdasarkan cerita seorang ibu muda yang merantau ke Bekasi, Jakarta dan sekitarnya, Lampung, dan sekarang Balikpapan)

Referensi:

Ariefiansyah, Miyosi. “Tanpamu Kami Bukan Apa Apa”. 2015. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*