Jangan Galau ketika Tulisan Ditolak Penerbit

Sebelum kita mendiskusikan langkah apa saja yang sebaiknya kita ambil ketika naskah ditolak, maka ada baiknya jika kita menengok sebentar para penulis terkenal berikut ini yang naskahnya pernah ditolak takhanya sekali, tapi berkali-kali oleh penerbit. Siapa saja mereka? Beberapa di antaranya adalah:

1. JK. ROWLING: ditolak 14 kali
2. Penulis novel THE HELP (difilmkan juga): ditolak 60 kali
3. Stephen King: ditolak 30 kali
4. Meg Cabot, penulis Princess Diary (difilmkan): ditolak 17 kali
5. Dan, masih banyak lagi termasuk penulis dalam negeri

Ehm, ternyata kita benar-benar tidak sendiri. ☺

Lalu, apa yang bisa/biasanya kita lakukan setelah naskh ditolak?

1. Puas-puasin masa-masa galau atau enggak terima

Ada kalanya, ego sebagai penulis berbicara, “Perasaan aku udah nulis bagus bangett. Kok yaaa ditolak, sih?”
Atau, sebaliknya, “Iya, sih. Siapa sih aku. Ya pantes kalau naskahku ditolak. Aku emang gak berbakat jadi penulis. Ya, udahlah,”

Nikmati aja masa-masa frustasi itu, tapi kasih deadline. Drama queen sesaat boleh-boleh saja. Tapi hidup terus berjalan. Kita mau mogok nulis atau move on juga gak ada pengaruhnya sama penerbit. Realistis, ya. Jadi mendingan move on.

“Aku akan galau dari tanggal 1 sampai 7, setelah itu bakalan bangkit!” seperti ini misalnya

2. Cari tahu kenapa ditolak

Alasan ditolak ada beragam, misalnya:

a. Tulisan kita emang kurang bagus
b. Tidak marketable untuk saat ini
c. Tulisan kita sensitif
d. Tidak sesuai dengan idealisme penerbit
e. Tema udah basi
f. Gaya bahasa kaku
g. dll

Ditolak tak semata-mata karena tulisan kita gak berkualitas, tapi bisa jadi karena alasan lain

3. Perbaiki

Tidak ada cara yang paling tepat selain memperbaiki. Ada untungny juga ditolak karena kita bisa lebih dalam lagi mengupas isi atau lebih bisa menampilkan sesuatu yang beda atau alasan lain.

4. Kirim Lagi

Terakhir, tentu kirim lagi. Jumlah penerbit di Indonesia ada ratusan. Silakan lihat di website IKAPI. Itu di Indonesia aja. Kalau kita gak mau “main” di Indonesia juga bisa, misalnya kita lebih memilih penerbit luar negeri. Silakan.

(Pernah disampaikan di kelas online)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*