Serunya Menyunting Naskah FIKSI

Jika menyunting naskah non-fiksi (dalam artian profesional ya, bukan menyunting naskah sendiri) serasa sudah mainstream buat saya (sejak 2011 silam), maka tidak dengan mengutak-atik naskah fiksi. Padahal, saya suka baca beberapa genre novel.

Dan di 2017 ini, saya diberi kesempatan untuk menyunting dua naskah novel: satu novel rumah tangga, satunya lagi novel remaja; satu tenggat waktunya dua hari sebelum saya lahiran dan satunya lagi beberapa waktu setelah saya lahiran. 😀

Gimana rasanyaaa?

Senangg.

Pertama, saya sudah kangen menyunting naskah secara profesional. Terakhir, tahun 2014 untuk Penerbit Salemba dan Agromedia. Kedua, akhirnya saya dapat kesempatan menyunting naskah fiksi juga padahal sebelumnya hanya jadi pembaca aja. Ketiga, dibayar untuk berjibaku dengan hobi, siapa sih yang enggak mau. Terakhir, saya bekerja ditemani bayii unyukk (pas dia masih dalam perut dan pas udah lahir), kelak jadilah anak yang rajin bekerja ya Nak, hehehe. 😀

Untuk tenggat waktunya sendiri kurang dari seminggu, sekitar 3 – 4 hari dengan ketebalan naskah masing-masing 205 halaman untuk novel rumah tangga dan 148 halaman untuk novel remaja. Keduanya masuk bacaan ringan kok, bukan novel berattt, jadi ya alhamdulillah bisa cepat selesai.

Lalu, keseruan lain apa yang saya dapat?

  1. Untuk kesekian kalinya, saya membuktikan sendiri bahwa di balik layar itu menyenangkan. Yaa, meskipun di depan layar juga enak, sih.
  2. Ilmu emang harus terus diasah, termasuk ilmu menyunting. Pokoknya enggak boleh cepat puas, harus selalu belajar.
  3. Ngerasain bedanya sama dulu pas saya masih belum punya anak. Jika duluu bisa semauhh guwehhh kalau sekarangg ada suara bayi nangis minta nenen saat saya sedang konsentrasi dengan naskah. Terus, gimana? Asik-asik ajaa. “Nak, kerja itu bisa di mana aja, generasi kamu -generasi z- familiar dengan hal semacam ini, bersyukurlah. Beda dengan generasi Bunda yang kerja dari rumah kadang masih dianggap alien, wkk,” serasa ingin bilang begini.
  4. Ngerasain banget bedanya menyunting naskah fiksi dan non-fiksi. Fiksi biar gimana-gimana harus menyertakan unsur perasaan. Saya suka keduanya, sih.

Semoga bukunya cepat terbit. Enggak sabar. Hoho.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*