4 Mental yang Harus Dimiliki Freelancer

“Ihh … enak kamu Mi bisa nyantai, kan kerjaanmu enggak terikat,”

“Lhoh, jadi kamu kerja di rumah? Wah, enak dong bisa leha-leha jayaa,”

“Di rumah emang bisa kerja, ya?”

“Kerja di rumah? Oh, nggak kerja ta,”

“Kamu aja deh yang ngurusin, kan enggak ngapa-ngapain,”

“Emang enggak bosan, ya?”

“Pengin juga deh kerja kayak kamu biar bisa nyantaii,”

Itulah sekelumit komentar yang biasanya muncul ketika mereka bertanya tentang kerjaan saya (selain jadi istri & ibu ya maksudnya) dan saya jawab am a fulltime freelancer atau am an independent worker.

BAPER? Dulu iya, pas awal-awal bangetss. Ingin rasanya berteriak, “Ihhh … guwehhh kan bukan pengangguran. Nih, otak guweeh kerjaa, muter-muter,” xixixi lebay ya. Tapi cuma bentar kok bapernya, berikutnya mah nyantaii ajaa. Bukankah selalu ada konsekuensi di setiap pilihan, lebih-lebih yang antimainstream, yang kita ambil?

Jadi, walaupun baru sekitar 9 tahun menjadi independent worker/remote worker/freelancer/whatever we name it (yupzz 9 tahun, seusia dengan tahun pernikahan saya), tapi boleh dong ya saya beropini kira-kira apa aja sih mental yang harus dipersiapkan buat jadi freelancer. Kalau kita udah punya mental ini, bolehlah lanjut. Tapi kalau masih cemenn atau satu aja belum nyanthol, mending pikir-pikir lagi daripada nanti pas jalan playing victim moeloe dan malah enggak konsen dengan apa yang lakuin.

Nahh … apa ajaaa? Ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama ini, yaa. Hanya opini pribadi. 🙂

Siap  dianggap pengangguran 

Yupss … enggak semua orang ngeh dengan apa yang kita kerjakan, dengan profesi kita, lebih-lebih buat mereka yang enggak pernah update atau masih berpikir ala zaman dulu bahwa kerja itu HARUS kantoran yang notabene berangkat pagi pulang sore atau malam atau dini hari. Sudah siapkah kita dianggap pengangguran hanya karena tidak melakukan rutinitas tersebut? Jangan-jangan baru dikomen, “Kok enggak berangkat kerja? Ngganggur, ya?” udah mau minum baygon karena ngerasa dunia enggak adil, enggak ada yang mau ngerti. 😀

Saya pribadi sih sebisa mungkin positive thinking ya, “Oh mungkin yang nanya emang beneran enggak tahu bahwa zaman sekarang kerja itu bisa dari mana aja”. Kalau pas lagi rajin ya saya terangin, kalau enggak ya palingan senyumin ajaa. Hehe.

Alternatif jawaban lain adalah ajak yang nanya ke rumah untuk melihat apa yang kita lakukan di rumah. Kita tunjukkan peralatan “tempur” kita plus sekalian hasil karya. Bukan buat pamer, bukaaann. Niatnya sih untuk kampanye aja ya bahwa kerja di zaman internet seperti sekarang ini itu bisa dari mana ajaa, termasuk di … rumah sembari minum kopi dan cemilan.

Siap dipandang sebelah mata

Ini juga mirip dengan poin sebelumnya. Jadi masih cukup banyak orang yang berpendapat bahwa yang disebut keren itu kalau ke luar rumah pakai seragam dan berangkat pagi pulang malam. Kalau lebih banyak di rumah aja, itu lontang-lantung dan dianggap enggak berguna.

Salah satu pengalaman cukup menggelitik yang pernah saya alami ketika masih awal menjadi penulis konten, sekitar tahun 2009 kalau enggak salah, adalah … pernah suatu ketika tetangga yang sebelumnya komen, “Kok di rumah aja sih, ke luar dongg,” (padahal saya lumayan sering ke luar, dianya aja yang enggak tahu, lagian emang harus laporan kalau mau ke luar LOL) … yupss … tetangga tadi memberi tahu saya info tentang sebuah tulisan di internet di website anu … yang ternyataa … yang nuliss adalah … sayaaa. Hanya sajaa di situ cuma tertulis “content team” as a writer karena perjanjiannya memang begitu. Ingin rasanya saya menjerit, “Itu tulisan akoehhhh …,” tapi urung saya lakukan karena saya enggak mau membuat tetangga saya malu, lagian juga enggak ada gunanya sih. Saya menulis tujuan utamanya kan bukan untuk cari pengakuan. Bila pun pada akhirnya tetangga saya tahu (iya, akhirnya tahu) biarlah karena ybs tahu sendiri secara natural. 😀

Siap bekerja di saat liburan

Saat orang kerja kadang enggak kerja, namun saat musimnya liburan kadang kerja. Siap dengan siklus terbalik seperti itu? Dulu, saya lumayan sering bekerja di kala libur walaupun saya kerjakan pas malam harinya sih karena saya enggak mau sok-sok-an sibuk di saat harus bercengkerama dengan keluarga.

Enggak iri enggak dapat THR

Hal lain yang bisa bikin baper adalah THR, apalagi ketika di timeline ada banyak teman-teman kita yang pamer baru dapat THR. Padahal sebagai freelancer, kita bisa kok menyiapkan THR kita sendiri. Caranya? Ada di buku saya berjudul Cash Flow Management untuk Awam dan Pemula. 😀

Ehm … apa lagi ya. Sepertinya baru empat, nanti kalau ada lagi akan saya tambahin.

Bagaimana? Beberapa teman saya mengurungkan niatnya untuk menjadi freelancer, ada juga yang berhenti untuk kemudian kembali menjadi pegawai fulltime. Kalau saya? Sejauh ini sangat menikmati jungkir baliknya, lebih-lebih setelah menjadi ibu yang notabene amanah yang saya punya nambah. Saya enggak bisa membayangkan gimana bisa ninggalin anak yaa padahal tanpa ninggalin anak aja saya udah bisa kerja. Alhamdulillah. Nikmat Allah mana yang kau dustakan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*